Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 26 Januari 2009

Jarh Wa Ta’dil

Jarh Wa Ta’dil

Muhammad Yasin

Definisi jarh wa Ta’dil : yaitu suatu Ilmu yang membahas jarh (sifat tercela rawi) dan ta’dil (sifat terpuji rawi) dengan mengunakan lafadz dan peringkat lafadz tertentu.

Tujuan jarh wa ta’dil : memelihara syari’at yang bertujuan memberikan nasihat dan tidak mencela sifat jelek rawi.

Dalam mengkritik rawi tidak boleh melampaui batas yang diperlukan. Jika seseorang sudah menjatuhkan satu penilaian yang mengena tidak diperbolehkan memberikan penilaian jarh yang lainnya. Ibn Daqiqil id (202 H) mengatakan “Hal yang paling riskan menyangkut para ahli hadits dan para hakim adalah perihal harga diri manusia, karena mereka bagaikan berdiri di tepi lubang dari lubang-lubang neraka”.

A. Jarh

Menurut bahasa : bentuk masdhar dari jaraha

Menurut istilah : penolakan rawi yang hafidz dan mutqin terhadap periwayatan perowi karena adanya cacat yang melukai periwayatan baik dari segi dhobith (intelektualitas) atau ‘adalah (moralitas).

Ada 10 bentuk kecacatan perowi, yaitu :

Segi dhobith (intelektualitas)

  1. Lemah hafalan (su’u hifdzi)
  2. Banyak salah (fahsyu ghalath)
  3. Sering lupa (ghaflah)
  4. Banyak ragu (Wahmu)
  5. Bertentangan dengan perowi yang dapat dipercaya (Mukhalafat Tsiqat)

Segi ‘adalah (moralitas).

  1. Mendustakan kepada Rasul (kidzbu ‘ala Rasulillah)
  2. Tertuduh dusta (tuhmah bi kidzbi)
  3. Fasik dalam tindakan dan ucapan yang tidak sampai pada kufur (fisqu bi fi’li aw bi qawli alladzi la yablugh hadda kufri)
  4. perowi tidak dikenal (jahalah)
  5. penganut bid’ah (bid’ah)

B. Ta’dil

Secara Bahasa : Taqwim (tegak), tazkiyah (bersih), taswiyah (seimbang)

Menurut Istilah : menyebutkan keadaan perowi yang diterima periwayatannya.

Syarat-syarat rawi yang diterima periwayatannya :

  1. Adil (moralitas)

- Islam

- Baligh

- Berakal

- Terbebas dari fasik (tidak melakukan dosa besar)

- Terbebas dari kejelekan kredibilatas (muru’ah)

  1. Dhabth (intelektualitas)

- Dhabth shard

- Dhabth kitab

Para Sahabat yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil

- Umar bin Khattab (23 H)

- Ali ibn Abi Thalib (40 H)

- Abdullah ibn Abbas

- Abdullah ibn Salam (43 H)

- Ubadah ibn Shamit (34 H)

- Anas ibn Malik (93 H)

- Aisyah

Para Tabi’in yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil

- Sa’id ibn Musayyab (94 H)

- Sa’id ibn Jubair (95 H)

- Atha ibn Abi Rabah (114 H)

- Urwah ibn Abi Zubair ibn Awwam (92 H)

- Abdurrahman al A’raj (117 H)

- Abu Shalih Zakwan (101 H)

- Hasan ibn Abi Hasan Bisri

- Muhammad ibn Sirin

- Anas ibn Sirin

- Abu al Aliyyah Rayahi Rafi’ ibn Mahran (90 H)

- Malik ibn Dinar (131 H)

- Amir Sya’abi (103 H)

- Ibrahim an Nakha’I (96 H)

- Masruk al Hamdani (63 H)

- Rubay ibn Khaitsam (64 H)

- Hammad ibn Abi Sulaiman (120 H)

- Sa’ad ibn Ibrahim az Zuhri (124 H)

- Rubay’ah ibn Abi Abdirrahman (136 H)

- Ayyub ibn Abi Taymah Sakhtiyani (13 H)

- Sulaiman ibn Mahran al A’masy (148 H)

- Abu Hushain ibn ‘Ashim al Asadi (128 H)

Para Tabiut Tabi’in yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil

- Syu’bah al Hajjaj

- Sufyan ibn Sai’d ats Tsauri (161 H)

- Abdurrahman ibn al Awza’I (157 H)

- Malik Ibn Anas (179 H)

- Husyaim ibn Basyir (183 H)

- Sufyan ibn Uyaynah (198 H)Yahya ibn sai’d al Qaththan (194 H)

- Abdullah ibn Al Mubarak (181 H)

- Jarir ibn Abdil Hamid (188 H)

- Fadhal ibn Musa Saynani (192 H)

Generasi berikutnya

- Waki ibn Jarrah (196 H)

- Abdurrahman ibn Mahdi (198 H)

- Sufyan ibn Ziyad Bashri/ Ra su

- Muzhaffar ibn Mudrik Abu Kamil (207 H)

- Muhammad ibn Idris Syafi’i (204 H)

- Abu Mushir Abdul A’la ibn Mushir Ghassani (218 H)

- Sa’id ibn Manshur Abu Utsman Khurasani (245 H)

Generasi berikutnya

- Ahmad ibn Hanbal (241 H)

- Ali ibn Abdillah ibn Ja’far al Madini (234 H)

- Yahya ibn Ma’in (233 H)

- Abdurrhman ibn Ibrahim Duhaym Dimsyaqi (245 H)

- Ibrahim ibn Muhammad ibn ‘Ir’irah (231 H)

- Khalaf ibn Salim (274 H)

- Ishaq ibn Rahuwiyah (238 H)

- Muhammad ibn Abdullah ibn Numair (214 H)

- Sulaiman ibn Dawud Abu Ayub Syadzakuni (234 H)

- Abu Bakr ibn Abi Syaibah (235 H)

- Amr Ibn Ali Abu Hafs al Fallas (249 H)

Generasi berikutnya

- Muhammad ibn Isma’il al Bukhari (256 H)

- Abu Zur’ah Abdullah ibn Abd Karim al Razi (264 H)

- Muhammad ibn Idris Aba Hatim al Razi (277 H)

- Muhammad ibn Muslim ibn Warah (270)

- Muhammad ibn ‘Auf al Hamshi (272 H)

- Yazid Abd Shamad (277)

- Abdurrahman ibn Amr Abu Zur’ah (281 H)

- Dimsyqiyani Muhammad ibn Yahya ibn Katsir al Harani / lu’lu (267 H)

- Abu Ishaq Ibrahim ibn Awramah al Ashfahani (271 H)

- Ubaid al ‘Ijl al husain ibn Muhammad ibn Hatim (394 H)

- Shalih ibn Muhammad Abu Ali al Baghdadi/ Jazrah (293 H)

- Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (290 H)

- Musa ibn Harun al Hammal (290 H)

- Abdan al Ahwadzi (306 H)

- Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib al Nasai (303 H)

- Abdullah ibn Muhammad ibn Sayyan al Farhadzani

- Al Husain ibn Muhammad Dawud Abu ‘Urwah al Harani (318 H)

- Ali ibn Sa’id ibn Basyir ibn ‘Alayka al Razi (297)

Adz Dzahabi di dalam kitab Mizan I’tidal membagi perowi pada tiga kelompok

1. Mutasyadid (keras)

Muta’anith (ketat) di dalam jarah dan mutatsabit (ketat) di dalam ta’dil.

Diantara tokohnya adalah :

- Jauzani

- Abu Hatim al Razi

- Muhammad ibn Idris

- Abu Muhammad Abdurrahman ibn Abi Hatim

- Nasa’i

- Syu’bah

- Ibn Qaththan

- Ibn Ma’in

- Ibn Al Madini

- Yahya al Qaththan

2. Mutasahhil (longgar)

Diantara tokohnya adalah :

- Turmudzi (279 H)

- Al Hakim

- Ibn Hibban (354 H)

- Al Bazzar (292 H)

- Syafi’i

- Thabrani (360 H)

- Abu Bakr al haitsami (807 H)

- Mundziri (656 H)

- Thahawi (321)

- Ibn Khuzaimah (311 H)

- Ibn Sakan (353 H)

- Baihaqi (358 H)

- Baghawi (510 H)

3. Mu’tadil (kelompok tengah)

- Bukhari

- Daruquthni (385 H)

- Ahmad

- Abu Zur’ah

- Ibn Adi

- Dzahabi

- Ibn Hajar al asqalani

Tingkatan Ta’dil

  1. kata yang menunjukan mubalaghah

- اوثق الناس

- أضبط الناس

- ليث له نظير(tiada bandingannya)

  1. kata-kata

- فلان لا يسأل عنه

- فلان لا يسأل عن مثله

  1. kata tsiqot diringi sifat lainnya

- ثقة ثقة

- ثقة مأمون

- ثقة حافظ

  1. kata sifat ‘adil dengan yang menunjukan kedhabitan

- ثبة

- متقن

- عدل إمام حجة

- عدل ضابة

  1. kata sifat adil tetapi tidak menggambarkan kedhabitan

- صدوق

- مأمون

- لابأس به

  1. kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih

- شيخ صدوق إنشاء الله

- ليس ببعي من الصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar