<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597</id><updated>2011-11-01T09:56:11.523-07:00</updated><category term='DUNIA ILMU HADITS'/><category term='Kajian Tokoh'/><category term='KONTAK KAMI'/><category term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-3890222106720039497</id><published>2009-07-18T21:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T21:09:41.734-07:00</updated><title type='text'>Kitab Karya Ulama Indonesia Dibajak Timur Tengah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Meski pembajakan karya intelektual tidak dibenarkan, namun Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchith Muzadi (Mbah Muchit) justru menyatakan bangga ada kitab karangan ulama Nusantara yang dibajak oleh penerbit Timur Tengah dan dipasarkan masyarakat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kitab yang dikarang oleh ulama kita dari Jawa, Indonesia, &lt;em&gt;kog&lt;/em&gt; dibajak oleh orang Arab. Saya malah merasa bangga,” katanya di Depok, Jum’at (17/7), terkait kasus pembajakan kitab &lt;em&gt;Sirajut Thalibin&lt;/em&gt; karya Syeh Ihsan Dahlan, Kediri, oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan, kitab ini dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut. Nama pengarangnya diganti Syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi (wafat 1941), dan sambutan Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Muchith sendiri sebagai salah seorang murid KH Hasyim Asy’ari mengaku belum sempat belajar kepada Syeh Ihsan Dahlan atau lebih dikenal dengan Syeh Ihsan Jampes yang meninggal pada 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tahu bahwa waktu itu ada ulama yang alim, Kiai Ihsan Jampes, tapi saya belum sempat bertemu dengan beliau,” katanya sambil membaca pengantar KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Sirajut Thalibin asli yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga berada di Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kiai Muchit, kitab Sirajut Thalibin dua jilid yang merupakan syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali merupakan salah satu bukti kebesaran ulama Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkannya, selain Syekh Ihsan, banyak ulama Nusantara yang karya-karya mereka menjadi rujukan umat Islam seluruh dunia, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, dan Syekh Arsyad Al-Banjari.&lt;br /&gt;sumber :http://www.nu.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-3890222106720039497?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/3890222106720039497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/07/kitab-karya-ulama-indonesia-dibajak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/3890222106720039497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/3890222106720039497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/07/kitab-karya-ulama-indonesia-dibajak.html' title='Kitab Karya Ulama Indonesia Dibajak Timur Tengah'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-6195865928944566187</id><published>2009-07-05T02:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T02:08:40.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Istilah hadits yang digunakan oleh imam at-Tirmidzi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penjelasan beberapa Istilah hadits yang digunakan oleh imam at-Tirmidzi&lt;br /&gt;Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang dimaksud oleh at-Tirmidzi dengan istilah “hasan shahih”, “hasan gharib” serta “ini adalah hadits gharib”&lt;br /&gt;istilah hasan shahih merupakan masalah yang sangat pelik, karena para ulama banyak berselisih dalam masalah ini. Dan kami belum menemukan sejauh yang kami ketahui mengenai pendapat pasti yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Ini disebabkan karena at-Tirmidzi sendiri tidak menjelaskan apa yang ia maksud dengan istilah hasan shahih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istilah hadits hasan gharib tidak sama dengan istilah hadits hasan. Yang dimaksud dengan hadits hasan gharib adalah hasan (bagus) secara sanad dan gharib (asing) disebabkan karena salah seorang perawinya menyendiri, baik menyendiri secara mutlak maupun secara nisbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istilah hadits hasan dan at-Tirmidzi tidak menambahkan lafazh gharib sesudahnya, maka yang ia maksudkan adalah hadits hasan li ghairi (hadits yang pada asalnya dhaif, namun kemudian menjadi hasan karena terdapat riwayat lain yang dapat menaikkan derajat hadits tersebut sehingga menjadi hasan –pent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk waspada dalam masalah ini; yaitu bahwa setiap hadits yang dikatakan oleh imam at-Tirmidzi hadits hasan maka isnadnya adalah dhaif, dan ia menganggapnya hasan. Karena ia mengetahui bahwa hadits ini mempunyai mutaba’at (penyerta) dan Syawahid (penguat), yang akhirnya derajatnya naik dari dhaif menjadi hasan. Maksudnya dhaif dari segi sanad tetapi hasan dari segi matan (isi hadits) yang merupakan konsekuensi dari matannya, disebabkan kedatangannya melalui jalan-jalan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika ia berkata hadits gharib maka kebanyakan yang ia maksudkan adalah dhaif yaitu secara sanad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Majmu’ah Fatawa al-Madina Al-Munawwarah. [ina: Ensiklopedi Fatwa-Fatwa Albany. Penerjemah : Adni Kurniawan. Pustaka At Tauhid. Jakarta. 2002 M. Hal. 49-50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;portege181.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-6195865928944566187?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/6195865928944566187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/07/istilah-hadits-yang-digunakan-oleh-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6195865928944566187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6195865928944566187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/07/istilah-hadits-yang-digunakan-oleh-imam.html' title='Istilah hadits yang digunakan oleh imam at-Tirmidzi'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-7464202211570293940</id><published>2009-05-04T18:42:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T02:08:49.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Rahasia Dibalik Pengulangan Hadits Kitab Bukhari</title><content type='html'>&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:595.35pt 842.0pt;  margin:48.2pt 42.55pt 42.55pt 42.55pt;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:246958851;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:1167377822 -1118120104 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l1  {mso-list-id:725492259;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1207251606 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;MUHAMMAD BIN ISMAIL DAN KITAB JAMI’NYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hari, dan Tanggal lahir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: Jumat 13 Syawwal 194 H&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tempat Lahir &lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;: &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bukhara&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hari dan tanggal wafat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: Jumat 1 Syawwal 255 H&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;BIOGRAFI PENTING MUHAMMAD BIN ISMAIL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Muhammad bin Ismail lebih &lt;i&gt;familiar&lt;/i&gt; dipanggil Bukhari, pada usia &lt;b&gt;10 tahun&lt;/b&gt; beliau sudah hafal kitab-kitab ibn Mubarak, Waki’ dan mengetahui pendapat mereka. Beliau menunaikan haji pada usia &lt;b&gt;16 tahun&lt;/b&gt; bersama ibu dan saudaranya yang bernama Ahmad. Setelah menunaikan Haji beliau tidak mau pulang tetapi bersikeras ingin tinggal di mekkah untuk menuntut ilmu. Tatkala usianya &lt;b&gt;18 tahun&lt;/b&gt; beliau telah menyusun kitab Qadlaya Shahabat dan Tabi’in di Mekkah kemudian kitab Tarikh sewaktu di Madinah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konsentrasi Bukhari terhadap kajian hadits lebih disebabkan oleh dukungan dan usaha ayahnya sendiri. Beliau melakukan &lt;i&gt;study tour&lt;/i&gt; ke berbagai Negri untuk mencari hadits lebih dari 1080 orang ahli hadits. Menurut pengakuan Muhammad Bin hamdawiyah bahwa Bukhari pernah berkata “Saya Hafal 100.000 hadits yang sohih dan 200.000 hadits palsu. Oleh karena ilmunya yang mapan Bukhari banyak melahirkan karya-karya penting diantaranya :&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 492.55pt; border-collapse: collapse;" width="657" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 13.2pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 138.8pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="185"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Jamius Shahih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 158.85pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="212"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Qadlaya Shahabat Dan Tabi’in&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 194.9pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="260"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Tarikhul Kabir Wa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ausath&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;Wa&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;   Shagir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 13.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 138.8pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="185"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Jamiul Kabir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 158.85pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="212"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Musnad Kabir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 194.9pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="260"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Tafsir Kabir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 13.2pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 138.8pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="185"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Dlu’afa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 158.85pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="212"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Kitabul Hibbah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 194.9pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="260"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Kitabul Asyabah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 13.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 138.8pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="185"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Usamash Shahabah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 158.85pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="212"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Khalqu Af’al Ibad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 194.9pt; height: 13.25pt;" valign="top" width="260"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Adabul Mufrad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 8.95pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 138.8pt; height: 8.95pt;" valign="top" width="185"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Raf’ul Yadain Fi Shalat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 158.85pt; height: 8.95pt;" valign="top" width="212"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Qiraatu Khalfa Imam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in 5.4pt; width: 194.9pt; height: 8.95pt;" valign="top" width="260"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Birrul Walidain &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;MENGENAL JAMIUS SHAHIH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Latar Belakang Lahirnya Jamius Shahih&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bukhari mendapatkan kitab-kitab hadits yang masih mencantumkan hadits lemah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Adanya dorongan dari gurunya yang bernama ishaq bin Ibrahim Handlali (amirul mukminin hadits)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mimpi bertemu dengan Nabi (riwayat Muhammad bin Sulaiman)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sebelum menulis hadits beliau melakukan Shalat istikharah terlebih dahulu. Beliau juga tidak sembarangan menerima hadits dari semua orang. Beliau menerima hadits dari orang yang memiliki keimanan kuat dan keimanannya itu terlihat dalam prilaku sehari-hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;JUMLAH HADITS DI DALAM KITAB JAMIUS SHAHIH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 0.2in; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 15.45pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hadits marfu’ maushul   yang diulang&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;7397&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15.45pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hadits marfu muallaq   yang diulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;1341&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 15.45pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hadits muttabi’ yang   berbeda riwayat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 15.45pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;344&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 7.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 7.75pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Total&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 7.75pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;9082&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 13.2pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hadits marfu’ maushul   tanpa diulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 13.2pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;2602&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 6.1pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 6.1pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hadits marfu muallaq   tanpa diulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 6.1pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;159&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 3.15pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 218.5pt; height: 3.15pt;" valign="top" width="291"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Total&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 74.3pt; height: 3.15pt;" valign="top" width="99"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;2761&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;RAHASIA DIBALIK PENGULANGAN HADITS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pengulangan kesatu, dua, ketiga dan seterusnya memiliki perowi yang berbeda-beda&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pengulangan tersebut menunjukan bahwa hadits yang ditulis memiliki banyak jalur isnad&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memiliki banyak periwayatan dengan jalur isnad yang berbeda menunjukan kelebihan hafalan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Satu hadits di dua tempat dengan dengan menggunakan satu jalur isnad hanya ada 23 hadits.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dilihat dari segi matan dalam beristimbath hokum diperlukan pengumpulan hadits dari berbagai riwayat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai penguat hujjah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;SYARAT ISNAD IMAM BUKHARI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;perowi yang meriwayatkan dari awal hingga akhir harus tsiqoh dan tidak diperselisihkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;isnadnya harus bersambung dari rawi pertama, kedua hingga akhir&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;jika periwayatannya dari dua sahabat atau lebih itu lebih bagus&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;jika periwayatannya hanya diriwayatkan seorang rawi maka telah mencukupi asalkan jalannya benar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PERBEDAAN ISNAD BUKHARI DAN MUSLIM :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Bukhari : Rawi harus bertemu dan sejaman&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Muslim : Rawi harus sejaman tanpa harus bertemu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;KELEBIHAN BUKHARI DALAM BIDANG HADITS &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;1. Rawi yang dijadikan sandaran bukhari dan tidak dijadikan sandaran oleh Muslim sebanyak 430 rawi. 80 diantaranya lemah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Rawi yang dijadikan sandaran Muslim dan tidak dijadikan sandaran oleh Bukhari sebanyak 620 rawi. 160 diantaranya lemah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;2. para perowi yang dinilai lemah tersebut tidak banyak meriwayatkan hadits. Dan rawi yang lemah itu sendiri diantaranya adalah gurunya bukhari. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;3. bertemunya seorang rawi dengan rawi yang haditsnya diriwayatkan sekalipun hanya sekali, bagi bukhari merupakan syarat sedangkan bagi Muslim tidak demikian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;4. hadits “Ali yang hanya 3 orang rawi terdapat 22 hadits. Jumlah tersebut termasuk hadits yang diulang sedangkan yang tidak 16 hadits. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Contoh hadits Janazah yang langsung dishalatkan nabi karena tidak memiliki tanggungan &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;Nabi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;Salamah bin al akwa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;Yazid bin abi Ubaid&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;Abu ‘Ashim an Nabil&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;" align="center"&gt;Bukhari&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;16 Nov 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;Muhammad Yasin&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right;" align="right"&gt;disampaikan pada pengajian remaja&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-7464202211570293940?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/7464202211570293940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/05/rahasia-dibalik-pengulangan-hadits.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7464202211570293940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7464202211570293940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/05/rahasia-dibalik-pengulangan-hadits.html' title='Rahasia Dibalik Pengulangan Hadits Kitab Bukhari'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-6596225184195002741</id><published>2009-04-20T18:55:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T20:11:11.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya'kub</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;wawancara&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya'kub ahli hadist Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya'kub adalah guru besar ilmu hadist IIQ (Institut Ilmu Alqur'an) Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan pengasuh Pondok Pesantren Luhur Hadist Darussunnah Ciputat. Pertama membaca tulisan wawancara beliau di harian Republika saya jadi tertarik dengan buah pemikirannya. Hari Ahad 22 Maret 2009 kebetulan harian Republika memuat lagi tulisan wawancara dengan beliau tentang minimnya pengetahuan ilmu hadist dari umat Islam.Hal ini menyebabkan banyak hadist palsu yang dipakai umat. Berikut adalah salinan tulisan wawancara beliau dengan wartawan Damanhuri Zuhri yang dimuat harian Republika. Hal- hal yang menarik bagi saya, saya miringkan hurufnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Kapan hadist palsu mulai muncul ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarah ilmu hadist, hadist palsu baru muncul pada dekade ke 4 dari tahun Hijriyah setelah tahun 40-an setelah terbunuhnya Sayidina Utsman bin Affan. Beliau terbunuh pada tahun 35 H dan dimakamkan pada 36 H. Jadi pada akhir tahun 35 H wafat dan dimakamkan hari berikutnya, awal tahun 36 H. Ini menimbulkan kelompok-kelompok politik. Bahkan Dr. Subulus Shaleh membuat angka yang pasti, pemalsuan hadist terjadi sekitar tahun 41 .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang menjadi orang pertama atau &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;kelompok pertama yang membuat hadist palsu itu kelompok-kelompok politik&lt;/span&gt;. Dalam rangka mendukung pendapatnya, para politikus ini mencari ayat-ayat Alqur'an. Kalau tidak ditemukan, mereka mencari hadist nabi. Karena tidak ada hadist nabi, mereka membuat hadist palsu. Hadist palsu yang dibuat kelompok politik, misalnya, hadist yang mengkultuskan Sayidina Ali bin Abi Thalib. Saking fanatiknya kelompok ini kepada Ali bin Abi thalib, sampai kemudian muncul hadist yang mengatakan, "Aliyyun khairul basyar, faman ankara faqad kafara."(Ali adalah sebaik-baiknya manusia, barang siapa yang tidak percaya, dia telah kafir). Nah ini jelas sekali yang membuat adalah orang yang fanatik dan mengkultuskan Ali. Tapi dalam sejarah s&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;elanjutnya yang paling dominan membuat hadist palsu adalah kelompok-kelompok tasawuf, kaum sufi&lt;/span&gt;. Itu yang dominan membuat hadist palsu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kaum sufi begitu dominan membuat hadist palsu ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa alasan. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Pertama, dari segi tujuannya&lt;/span&gt; , mereka menganggap ketika umat sudah bobrok akhlaknya, perlu ada dorongan untuk beramal saleh. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Untuk merangsang beramal saleh, mereka membuat hadist-hadist palsu&lt;/span&gt;. K&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;edua, dari segi metode. Metode penetapan hadist orang sufi tidak sama seperti ahli hadist secara umum&lt;/span&gt;. Mereka tidak terikat dengan persyaratan hadist. Misalnya sanadnya harus terdiri dari orang-orang yang kredibel. Mereka tidak menggunakan seperti itu. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Mereka menggunakan dua metode&lt;/span&gt;. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Metode pertama&lt;/span&gt;, apa yang disebut &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;metode Al Kasyf&lt;/span&gt;. Al Kasyf adalah suatu pengetahuan yang diperoleh tanpa pembelajaran, Seperti ilham. Menurut mereka kalau dengan Al Kasyf hadist itu dianggap shahih, mereka mengataka shahih meskipun menurut ahli hadist, hadist itu tidak shahih. Maka itu jumlah hadist palsu di kalangan orang sufi banyak sekali. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kedua, mereka menganggap Nabi masih sering datang ke dunia sehingga banyak menemui orang-orang tertentu&lt;/span&gt;. Itu bertemu nabi dalam keadaan terjaga. Inilah yang kemudian nabi dalam pesan-pesan tertentu memberikan wirid dan segala macam. Akhirnya banyak hadist muncul setelah Nabi wafat. Ini yang menjadi masalah di kalangan sufi &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;sehingga kaum sufi itu paling banyak membuat hadist palsu menurut kacamata ilmu hadist.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana ciri-ciri hadist palsu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau dilihat dari segi sanadnya kalau dalam sanadnya terdapat rawi(periwayat), yang dengan terus terang dia mengaku memalsu hadist. Maka itu &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;hadistnya menjadi p&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;alsu&lt;/span&gt;. Yang kedua perawinyapun dusta, tapi tidak diketahui ketika menyampaikan hadistnya apakah palsu atau tidak. Tapi jelas dia pembohong. Maka hadist kedua ini namanya &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;hadist makruh&lt;/span&gt; kalau dalam bahasa Indonesia semi palsu. Itu kedudukannya &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;sama harus dibuang&lt;/span&gt;. Jadi tidak boleh meriwayatkan atau menyampaikan hadist palsu kecuali dalam rangka menjelaskan tentang kepalsuan hadist tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;agaimana kalau umat Islam mengamalkan hadist palsu yang berkaitan dengan fadhai a'mal?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak boleh sama sekali. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Fadhail a'mal itu dikerjakan kalau hadistnya hanya dhaif, bukan sampai kepada palsu. &lt;/span&gt;Tapi itupun ada syaratnya&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;Pertama&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt; dhaifnya tidak terlalu parah&lt;/span&gt;. Yang parah itu misalnya, hadist palsu, hadist makruh dan hadist munkar. Hadist munkar itu periwayatnya pelaku maksiat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa perbedaan hadist dhaif dengan hadist palsu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang hadist palsu itu bagian dari hadist dhaif. Tapi hadist dhaif yang paling parah. Nah yang tidak parah misalnya hadist mursal seperti itu, misalnya tabiin kok menyebut kepada nabi bukan kepada sahabat. Kelihatannya seperti hadist, "Hububudunya ra'su kulli khati'n."(mencintai dunia adalah pangkal dari kejahatan). Itu hadist dhaif tapi tidak terlampau parah. S&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;yaratnya satu,&lt;/span&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;kedhaifan hadist tidak terlalu parah&lt;/span&gt;. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kedua ada dalil lain baik Alqur'an maupun hadist yang mendukung substansi dari hadist dhaif itu&lt;/span&gt;. Ketiga, ketika mengamalkan hadist tidak menyebutkan nabi bersabda, tapi cukup disebutkan ada hadist atau ada riwayat seperti itu saja. Nah itu boleh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan hadist palsu sekarang ini bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang mengetahui hadist palsu sehingga sedikit demi sedikit hadist palsu tidak diamalkan. Jadi ada perkembangan meskipun tidak cepat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak juga di kita, seperti hadist-hadist yang sebenarnya tidak hebat, itu sering dipakai ulama. Itu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas apa yang ulama pakai karena tidak selamnya mereka tahu hadist. Contohya hadist ulama dan umara' itu hadistnya semi palsu. Tapi banyak ulama pakai karena mungkin dia tidak tahu hadist itu palsu. Jadi sekarang sudah mulai tahu karena banyak orang yang belajar ilmu hadist.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana untuk memahami sebuah hadist apakah palsu atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau memahami itu ada metode tersendiri. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Memahami hadist itu bisa dilakukan dengan tiga cara&lt;/span&gt;. Ada yang pertama dengan &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;pemahaman tekstual dan kontekstual&lt;/span&gt;. Kedua, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;menggabungkan riwayat-riwayat yang lain&lt;/span&gt;. Dan ketiga, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;melalui metode kontroversialitas hadist&lt;/span&gt;. Misalnya, yang tekstual dan kontekstual, misalnya, tentang fatwa Nabi apakah pakaian Nabi itu kita diharuskan mengikuti seperti itu termasuk sorban, misalnya. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Orang yang memahami secara tekstual apa yang dipakai Nabi ya harus kita ikuti. Tapi, yang kontekstual tidak &lt;/span&gt;, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;karena itu budaya Arab. Jadi yang diamanahkan oleh Nabi bukan bentuk pakaiannya, melainkan semangatnya, substansinya&lt;/span&gt;. Misalnya, menutup aurat, tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Saya rumuskan dengan 4 T, T1 tutup aurat, T2 tidak transparan, T3 tidak ketat, T4 tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Maka kalau pakaian dia sudah memenuhi kriteria 4 T tadi ya sudah, berarti pakaian Islam, apapun bentuknya. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Islam itu bukan Arab, Islam itu mendunia&lt;/span&gt;. Jadi siapa saja tidak harus pakai sorban, karena sorban itu budaya Arab. Yang memakai sorban itu bukan Nabi saja. Nabi mengatakan perbedaan sorban kita dengan sorban orang musyrikin adalah pakai peci. Jadi orang-orang musyrikin pakai sorban. Makanya, jangan mengklaim sorban itu adalah satu-satunya pakaian Islam. Termasuk Abu Jahal, Abu Thalib, pakai sorban. Yang penting 4 T tadi. Di Amerika ada yang mempertanyakan, kenapa orang amerika yang sudah masuk Islam berpakaian Arab? Itu mungkin tidak menarik karena seolah-olah Islam itu harus Arab. Kalau budaya orang Arab pakai sorban, kita mungkin pakai peci dan sebagainya. Nabi juga rambutnya panjang, tetapi kenapa kita nggak berambut panjang?Karena itu adalah budaya Arab pada saat itu tidak harus kita ikuti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana membedakan hadist shahih dan dhaif ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu dipelajari dalam ilmu hadist unuk membedakannya. kalau &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;adist shahih itu ada syaratnya empat&lt;/span&gt;. Pertama, sanadnya bersambung kepada Nabi dari penulis hadist. Kedua, terdiri atas perawi yang kredibel, syaratnya muslim, akil baligh, tidak pelaku maksiat dan tidak melakukan hal-hal yang merusak citranya. Ketiga, dia memiliki kekuatan hafalan yang prima. Keempat tidak ada kecacatan dalam menjatuhkan kualitas hadist, istilahnya tidak ada illat dan sebagainya. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kalau keempat syarat tidak terpenuhi hadistnya menjadi dhaif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;alau hadist tentang bid'ah, bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang apa yang dimaksud dengan bid'ah itu. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Ada yang mengatakan,&lt;/span&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;apa yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, itu namanya bid'ah&lt;/span&gt;. Kalau itu disebut bid'ah maka umrah ramadhan itu bid'ah karena abi saw tidak pernah melakukan umrah ramadhan. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Nah yang benar yang dimaksud dengan bid'ah adalah yang tidak ada dalilnya dalam agama.&lt;/span&gt; Dalil itu bisa Alqur'an, hadist, ijma, qiyas dan lain-lain. Misalnya shalat subuh 10 rakaat, itu tidak ada dalilnya. Bukan ibadah yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah. Nabi itu tidak pernah mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, lantas apakah itu disebut bid'ah? Walaupun tidak ada dalilnya tapi ada qiyas sebagai dalilnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana agar orang tidak mengerjakan bid'ah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalahnya kadang-kadang mereka itu yan suka membid'ahkan orang, sengaja ingin bikin orang bertengkar saja. Jadi, dia termasuk mungkin ada yang menyetir. Dia menganggap dirinya paling benar, hanya dia sendiri yang masuk surga yang lain nggak masuk surga. Jadi kalau dilacak itu pasti ada sponsornya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana semangat umat Islam Indonesia dalam mempelajari hadist?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umat tahu Islam dari ulama. Sementara &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;ulama di Indonesia, banyak yang cenderung kepada ilmu tasawuf. Sedikit sekali yang mendalami ilmu hadist&lt;/span&gt;. Makanya, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;umat juga sedikit sekali pengetahuan tentang hadist&lt;/span&gt;. Karena umatnya hanya mengikuti ulama. Tanpa ulama nggak tahu Islam. Dari mana dia tahu Islam?Dia tahu Alqur'an itu dari ulama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana menumbuhkan semangat umat untuk mempelajari hadist?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum berbicara masalah umat, bicara masalah ulamanya dulu. Ya ulamanya harus di upgrade dulu. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Ulamanya harus membangun diri dulu sehingga memahami Alqur'an dan hadist,&lt;/span&gt; baru kita membicarakan masalah umat. Tapi kalau ulamanya tidak, tidak mungkin umat akan berubah. dan k&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;ecenderungan di Indonesia, kalau diperingkat, itu peringkat pertama pada tasawuf, kepada hal-hal yang sufisme sifatnya.Peringkat kedua, baru fiqih. peringkat ketiga, tafsir. Peringkat keempat, akidah atau tauhid dan selanjutnya baru hadist.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Idealnya seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang ideal menurut saya, Alqur'an dan hadist dulu. Makanya di Indonesia minim sekali orang yang mempelajari tafsir, hadist, tapi kitab-kitab kuning yang membawa tasawuf yang terkadang justru syarat dengan hadist-hadist palsu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana cara mengubah paradigma ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Paling bagus kita siapkan generasi baru&lt;/span&gt;. Yang sudah biar saja, ulama-ulama atau kyai-kyai yang sudah tua karena sebentar lagi mereka meninggal dunia. kita nggak bisa mengubah mereka. Makanya, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;kita siapkan generasi yang memahami Alqur'an dan memahami hadist&lt;/span&gt;. Jadi nggak usah mengubah mereka karena akan sulit. Lebih baik kita menyiapkan generasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu perlu membuat seperti Ponpes Darussunnah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kira itu. Itu salah satu cara. Kita nggak mungkin mengubah ulama-ulama yang umurnya sudah 60-an tahun ke atas untuk mengajari seperti ini. Maka yang paling mudah adalah menyiapkan generasi muda. Makanya &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;kita arahkan ke Alqur'an dan ilmu Alqur'an dan hadist dan ilmu hadist. Karena semuanya bersumber dari situ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka itu seperti pada MTQ Alqur'an dan hadist, nggak banyak yang hafal hadist?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi, itu tidak banyak menyangkut pada ilmu hadist, cuma hafalan. Tidak menyangkut kepada pemahaman hadist hanya sekadar menghafal. Mestinya harus lebih dari itu. Dari segi ilmiahnya, karena MTQH yang sudah digelar beberapa waktu yang lalu itu hanya sekadar menghafal hadist. Siapa yang hafalannya kuat, bisa menang. Padahal untuk memahami hadist tidak seperti itu, butuh ilmu khusus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;pa saran anda untuk Depag agar memperhatikan pedidikan, terutama ilmu-ilmu hadist di Tsanawiyah dan Aliyah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;Seorang yang namanya Imam Ibnu Zureid, itu belajar hadist sampai 17 tahun. Ada cerita menarik sekali, kita tidak mungkin belajar ilmu hadist secara instan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-6596225184195002741?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/6596225184195002741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/04/prof-dr-kh-ali-mustafa-yakub.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6596225184195002741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6596225184195002741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/04/prof-dr-kh-ali-mustafa-yakub.html' title='Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya&apos;kub'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8462097469661129477</id><published>2009-04-20T18:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:11:11.212-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Prof DR Muhammad Mustafa Al A'zami</title><content type='html'>Wawancara &lt;b&gt;&lt;br /&gt;Prof DR Muhammad Mustafa Al A'zami&lt;/b&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ulama Hadist&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam lawatan pertamanya ke Indonesia, Al A'zami meluncurkan bukunya yang berjudul The History of The Quranic Text, From Revelation to Compilation, a comparative study with the old and new testaments (Sejarah Teks Alquran, dari wahyu sampai kompilasi kajian perbandingan dengan perjanjian lama dan perjanjian baru) yang diterbitkan PT Gema Insani. Dia juga sempat berkunjung ke Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, berdialog dengan 100 ulama Indonesia di Kantor Departemen Agama, serta bersilaturahmi dengan para muridnya di Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemui wartawan Republika Damanhuri Zuhri di sebuah kamar pada lantai 16, Hotel Sahid, Jakarta, tempatnya menginap selama berada di Jakarta, Al A'zami banyak bercerita tentang bukunya, berbagai upaya yang dilakukan kelompok di luar Islam untuk memerangi Alquran dan Alhadis, hingga kisah tentang anak dan kegemarannya pada makanan laut. Berikut ini petikan wawancara dengan Al A'zami yang didampingi muridnya, Prof KH Ali Mustofa Yakub MA, yang juga dikenal sebagai pakar hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Buku yang baru diluncurkan itu ditulis selama empat tahun itu. Berapa lama penelitiannya?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Selama empat tahun itu secara keseluruhan dengan penelitian-penelitian, manuskrip, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Apa saja kendala dalam penulisan buku tersebut?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Kendalanya, kadang-kadang, perpustakaan yang bersangkutan tidak mengizinkan kami melakukan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Selama ini ada orientalis yang mengobok-obok Islam, tapi Anda malah sebaliknya, mengobok-obok orientalis. Bisa diceritakan apa sesungguhnya yang terjadi?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ini hal yang penting. Saya beri contoh. Anda punya kumis dan jenggot, saya juga punya kumis dan jenggot. Anda mengatakan, kumis saya bermasalah. Akan tetapi, Anda tidak mengatakan kumis dan jenggot Anda bermasalah. Mengapa? Ini yang perlu dipecahkan. Ini sebagai contoh saja. Mereka menganggap kita ada masalah dan tidak menganggap diri mereka ada masalah. Artinya, mereka tidak mau mengakui ada masalah. Karena itu saya katakan, kamilah yang akan melihat permasalahan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Karena itulah Anda kemudian masuk untuk mempelajari orientalisme?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mempelajari bangsa Barat, akan tetapi mempelajari agama yang dianut orang-orang Barat, agama yang berkembang di sana. Karena mereka menganggap orang Islam selamanya bermasalah, sekarang kita lihat agama mereka bermasalah apa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Masalah apa yang paling konkret Anda temukan dari mereka?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, secara umum seorang penulis Muslim harus menulis apa yang bisa dimanfaatkan bagi para dai (pendakwah, red). Biarlah mereka yang kemudian memberikan penilaian. Kadang-kadang suatu topik oleh seorang penulis dianggap biasa-biasa saja, tapi bagi umat itu dianggap satu hal yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Contohnya?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat contoh, misalnya, membandingkan keadaan orang-orang Islam, Kristen, dan Yahudi sepeninggal Nabi mereka. Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, orang Islam menguasai politik yang sangat kuat, punya kemerdekaan, kebebasan berpolitik, dan sama sekali tak ada tekanan politik. Kondisi ini mendorong dan membantu penyebaran dan pemeliharaan agama. Dengan demikian mereka bisa menulis Alquran dengan bagus, tanpa ada tekanan dan sebagainya. Kemudian bisa menulis hadis dengan baik tanpa ada tekanan apa-apa. Dan ini menjadi salah satu unsur penunjang Alquran itu terpelihara keasliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan misalnya umat Kristiani sepeninggal nabi Isa AS. Mereka selama ratusan tahun berada di bawah tekanan politik sehingga memengaruhi penulisan kitab suci mereka sehingga memungkinkan terjadinya penyimpangan. Demikian pula umat Yahudi ketika Nabi Musa keluar dari Mesir. Selama empat puluh tahun mereka dalam kebingungan. Kondisi itu sangat memengaruhi warisan yang mereka terima dari Nabi Musa. Ini hal yang mendasar sekali mengapa Alquran dan hadis itu terpelihara sedangkan Taurat dan Injil tidak terpelihara. Ada faktor-faktor yang memengaruhi. Di samping itu, memang ada faktor-faktor alami yang datang dari Allah. Dan memang Allah menjamin kemurnian Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Jadi, selain memang Allah telah berfirman Inna nahnu nazzalnazzikro wa innaa lahu lahafidzun (Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya, red), ada kondisi realitas yang sangat jelas sehingga Alquran tetap terjaga?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah mengatakan seperti itu bukan berarti nanti ada mukjizat lagi. Mukjizat sudah selesai. Itulah kemudian Allah dalam praktiknya membuat masyarakat seperti itu. Ketika Alquran harus dipelihara Allah, maka Allah menciptakan masyarakat yang seperti itu. Jadi, bukan berarti kemudian akan muncul mukjizat lagi dan sebagainya dalam pengertian tidak ada faktor yang bersifat manusiawi. Dalam penjagaan manusia itu diciptakan oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sosok Al A'zami adalah menyaksikan seseorang yang murah senyum, low profile, serta sangat tawadhu. Kata-katanya terlontar teratur. Bagi Ali Mustofa Yakub, Al A'zami termasuk orang yang tidak menyukai aturan protokoler, resmi-resmian. Dia justru lebih suka menyatu dengan jamaah. Alhasil, ketika akan dikawal bersama Menteri Agama, beliau tidak bersedia. Al A'zami bahkan masuk ke shaf-shaf dari belakang. ''Di Amerika juga begitu,'' ujar Ali Musthafa. Dia pun tampak sangat menguasai bidangnya, termasuk ketika diminta komentarnya tentang Aminah Wadud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Belakangan, ada kasus menarik seperti pendapat DR Aminah Wadud yang berani menjadi imam wanita pertama dalam shalat Jumat dengan jamaah kaum pria. Adakah kesamaan dengan kasus Salman Rushdie dengan buku 'Ayat-ayat Setan' ataupun kelompok-kelompok lain yang ingin menyelewengkan Alquran dan Alhadis?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelum saya berangkat ke Indonesia, surat kabar Ar-Riyadl yang terbit di Riyadh, Arab Saudi, 27 Maret 2005 memuat berita Uni Eropa minta kepada Turki dan orang-orang Turki yang ada di Eropa agar ketika khutbah Jumat mereka tidak menyebut firman Allah 'Innaddiina indallahil Islam (Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam, Alquran surat Ali Imran: 19). Orang-orang Eropa yang non-Muslim itu merasa tersinggung. Oleh sebab itu, bagi mereka memerangi Alquran adalah salah satu keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Lantas?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, mereka tak semata memerangi Alquran tapi juga menyebarkan tasykik (keragu-raguan, red). Sekarang strateginya berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dulu, cara mereka membuat orang Islam ragu terhadap kitab sucinya adalah dengan mengatakan Alquran bukanlah wahyu tapi karangan Muhammad, yang isinya juga merupakan sekadar cuplikan-cuplikan dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Cara mereka sekarang diubah dengan mengatakan Alquran tak lebih dari bikinan orang-orang dari abad ketiga Hijriyah. Artinya apa? Pada abad pertama dan kedua Hijriyah, tak ada yang namanya Alquran. Begitulah, mereka terus berusaha membuat keragu-raguan terhadap Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Sebagai Muslim, tindakan kita bagaimana?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban kita, pertama, tuduhan-tuduhan itu bathil maka tindakan kita bagaimana? Harus membentengi akidah sehingga tidak mudah terpengaruh dengan tujuan-tujuan bathil tersebut. Kedua, bagaimana supaya kita tidak terpengaruh. Kita melihat contoh misalnya pada undang-undang dasar, ada kalimat-kalimat yang kemudian menimbulkan perbedaan pendapat. Seorang mengatakan bahwa ini dilarang. Itu penafsiran dia. Ketika dia punya guru andaikata gurunya masih hidup dan dia lebih tahu tentang arti ayat-ayat undang-undang itu, dia akan mengatakan, ''Ini nggak apa-apa seperti itu, sebab dia kan lebih alim dan lebih tahu tentang makna undang-undang itu daripada dia.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain misalnya buah duku. Seorang dokter mengatakan buah duku itu membahayakan kesehatan, ada lagi yang mengatakan tidak membahayakan. Yang berhak mengatakan apakah buah duku berbahaya atau tidak terhadap kesehatan adalah orang yang spesialis tentang buah duku. Ini sebuah jembatan keledai. Sekarang banyak orang menafsirkan Alquran padahal dia sendiri kadang-kadang baca Alqurannya saja sudah tidak benar. Bagaimana tahu dia? Makanya, untuk penafsiran Alquran harus diserahkan kepada orang yang spesialis atau ahli tafsir dan sebagainya. Jangan setiap orang baru tahu satu ayat terus menafsirkan Alquran. Baru ikut kursus dakwah terus menafsirkan Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Termasuk dalam kaitan ini kasus Aminah Wadud?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Soal Aminah Wadud, bagaimana kita harus percaya dia adalah seorang ahli Islam. Dia mungkin tahu Islam dari buku-buku bahasa Inggris, dia tidak bisa bahasa Arab dan sebagainya. Sekarang banyak orang yang ternyata tidak ahlinya tapi bicara seperti itu. Jadi, kalau kita mau tanya masalah agama tanya kepada ahlinya yang juga takut kepada Allah bukan sekadar ahlal aqli (ahli pikir, red).Kedua, Islam bukanlah agama kemarin sore. Mengapa kemudian shalat Jumat dengan imam Aminah Wadud menjadi masalah, padahal shalat Jumat itu sudah berlangsung selama 14 abad, bahkan jutaan ulama sudah menerangkan pendapatnya soal itu? Mengapa sekarang muncul seperti Islam baru (muncul) kemarin sore? Mengapa sekarang diributkan masalah seperti itu? Tujuannya, tidak lain, agar umat Islam ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Lantas, mengapa banyak jamaahnya termasuk dari Indonesia?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka menginginkan Islam itu dihancurkan. Pendukung mereka banyak dan didukung dengan segala macam. Yang menarik, ayah tiga putra yang kini berusia 75 tahun itu, masih tetap aktif menulis dan membaca bahkan berkunjung ke sejumlah negara sendirian. Tentang kiat sehatnya, Al A'zami secara terus terang berkata, ''Waktu kecil saya bekerja di sawah yang jaraknya untuk sampai ke ladang lima kilometer. Saya jalan kaki ke ladang itu. Dan, yang penting saya selalu banyak minum air putih,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Dalam usia berapa Anda mulai menulis?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya menulis buku pada tahun 1960-an ketika berada di Qatar sesudah tamat dari Kairo, Mesir. Di Qatar, saya menjadi sekretaris Perpustakaan Nasional. Studi kitab adalah kalimat atau kata-kata India dalam bahasa awam Qatar (bahasa pasaran). Seperti juga banyak bahasa India, Urdu, yang menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata 'bahasa' itu dari India. Saya mengumpulkan kata-kata India yang kemudian menjadi bahasa orang kebanyakan yang dipakai di Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Berapa banyak kata India yang ditulis waktu itu?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali kalimat seperti itu sampai ratusan yang menjadi bahasa pasaran Qatar. Jadi, bahasa Qatar waktu itu ada pengaruh dari India karena ada hubungan dagang langsung antara Qatar dan Bombay. Itulah yang menyebabkan bahasa India banyak masuk ke wilayah Qatar. Begitu juga bahasa India yang masuk ke Indonesia seperti kata graha, sembahyang, puasa. Cuma, kalau di India puasa itu upuas, terbalik malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Tradisi menulis ini ada dalam keluarga?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya, al-Syaikh Abdurrahman Al Maulawi, seorang ulama dan juga mengajar agama. Ayah saya juga menulis tetapi tidak dipublikasikan (dicetak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Lantas, nama Al A'zami itu dari mana? Bukan nisbat keluarga?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Nama Al A'zami nisbat dari daerah Azamgarh. Saya berasal dari kota Mau Distrik Azamgarh negara bagian Uttar Pradesh. Jadi nama itu bukan nama marga melainkan nisbat daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Soal kesehatan?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Menurut nasihat para dokter, orang seumur saya tidak baik makan daging yang merah seperti sapi, kerbau, lebih baik makan ikan kecuali ayam. Tapi, saya nggak senang ayam dan akhirnya saya memilih makanan laut seperti ikan maupun udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana dengan anak-anak?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Saya punya tiga anak, dua putra dan satu putri. Putra yang pertama, Agil, sudah mendapatkan gelar doktor dalam bidang komputer dari Colorado, Amerika Serikat (AS). Putra kedua namanya Anas juga meraih gelar doktor dalam genetic engineering di Oxford, Inggris. Sedang anak ketiga doktor dalam bidang matematika dari Colorado, AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Kok, tak ada satu pun dari mereka yang mengikuti keahlian sang ayah, yakni ahli di bidang Alquran dan Alhadis?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Ketiga anak saya secara tidak resmi belajar Alquran dan Alhadis. Yang pertama, sarjana komputer. Ilmu komputer diterapkan untuk ilmu tentang masalah hadis. Anak kedua, sangat kritis sekali karena belajar di Barat. Kalau saya menulis, dia banyak sekali membantu saya karena bahasa Inggrisnya lebih bagus. Jadi, kalau saya membuat kalimat dalam bahasa Inggris sudah pas apa belum, itu tergantung dari koreksian anak saya yang kedua. Jadi mereka tahu sekali masalah hadis dan qiraat meskipun secara nonformal. Tapi, taraf berpikirnya sangat membantu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Berapa cucu?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Baru tiga. Namanya Maryam, Umar, dan Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Yang menarik, dalam usia 75 tahun Anda masih aktif menulis?&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan saya membaca dan menulis, jadi bisa kapan saja. Tapi kadang-kadang dua jam menulis empat jam membaca atau dua jam menulis dua jam membaca. Jadi, menulis dan membaca itu selalu dikerjakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8462097469661129477?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8462097469661129477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/04/prof-dr-muhammad-mustafa-al-azami.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8462097469661129477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8462097469661129477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/04/prof-dr-muhammad-mustafa-al-azami.html' title='Prof DR Muhammad Mustafa Al A&apos;zami'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-5374086804544222119</id><published>2009-03-21T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T06:37:03.844-07:00</updated><title type='text'>Ibn Hibban</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Pengarang kitab Shahih Ibnu Hibban adalah imam Ibnu Hibban. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban. Ia juga memiliki kunyah yaitu Abu Hatim al-Busti. Sebagai seorang ahli hadits ternama, ia mendapatkan gelar al-hafizh, sebuah gelar kehormatan yang hanya disematkan pada pakar hadits yang pilih tanding.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-246"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Ibnu Hibban lahir di desa Busta (Afganistan). Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sangat kental dengan nuansa religius, sehingga ia menjadi seorang muslim yang taat beribadah. Disamping itu, ia juga mendapat bimbingan langsung dari orangtuanya mengenai dasar-dasar agama. Karenanya tak heran jika sejak kecil ia sudah menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam, seperti fikih, tafsir, akhlak, sejarah dan hadits.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Akan tetapi di kemudian hari, minatnya terfokus pada disiplin ilmu hadits. Iapun mengkonsentrasikan diri menekuni pelajaran hadits, tanpa mengabaikan bidang ilmu lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Setiap guru yang ahli di bidang keilmuan tertentu ia datangi. Ketika ingin belajar tafsir, ia mengunjungi guru tafsir. Ketika hendak mendalami disiplin ilmu fikih, ia menjambangi guru fiqih. Ketika berhasrat menekuni bidang hadits, iapun mendatangi guru hadits. Demikian seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Itulah yang dijalankan oleh Ibnu Hibban ketika menuntut ilmu. Terlebih ketika berniat untuk menekuni ilmu hadits, ia berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Iapun mulai belajar hadits kepada guru-guru hadits didaerahnya. Setelah semua guru hadits didaerahnya ia datangi, ia memohon doa restu orangtuanya untuk mengembara ke negeri-negeri lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Dalam pengembaraannya mencari hadits, ia sempat menjadi salah seorang murid imam Ibnu Khuzaimah. Sungguh rute perjalanan keilmuan Ibnu Hibban sangat panjang. Ia menuntut ilmu sampai ke Khurasan, Syiria, Mesir, Irak, dan Semenanjung Arab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Setelah dirasa cukup, Ibnu Hibban pun kembali ke tempat asalnya. Di daerahnya, dia didaulat sebagai guru besar hadits. Bahkan, ia diangkat oleh pemerintah di daerahnya sebagai hakim syariat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Di tengah kesibukannya menangani persoalan peradilan agama, ia menyempatkan diri untuk menulis karya tulis. Salah satu karya terbesarnya adalah &lt;em&gt;Taqasimul Anwa&lt;/em&gt; atau lebih dikenal dengan &lt;em&gt;Shahih Ibnu Hibban.&lt;/em&gt; Kitab ini kemudian disusun kembali oleh Abi bin Balban dan hingga sekarang dikenal dengan nama &lt;em&gt;al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;Taqrib Ibnu Balban ‘Ala Shahih Ibnu Hibban.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Disamping kitab tersebut, Ibnu Hibban juga memusatkan diri untuk menulis kitab mengenai kualitas perawi hadits. Diantara karyanya tentang hal ini adalah &lt;em&gt;Majruhin minal Muhadditsin&lt;/em&gt;. Sayangnya, hingga sekarang kitab yang terakhir ini masih belum bisa sampai ke tangan kita, karena masih berbentuk manuskrip yang disimpan di perpustakaan Masjid Aya Sofya, Turki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Karya Ibnu Hibban lainnya yang terkait dengan perawi hadits adalah &lt;em&gt;al-Majruhin minal Muhadditsin wa ad-Du’afa wa al-Matrukin&lt;/em&gt;, sebuah kitab yang memuat daftar perawi hadits yang ditinggalkan perkataannya dan perawi dhoif yang terkena &lt;em&gt;jarh&lt;/em&gt; (cela). Kitab ini tersusun dalam tiga jilid. Disamping itu ia juga menyusun kitab yang berjudul &lt;em&gt;ats-Tsiqat&lt;/em&gt; setebal 9 juz yang memuat daftar para perawi hadits yang berkualitas terpercaya (&lt;em&gt;tsiqah&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Diantara hadits yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Hibban adalah sebuah hadits yang terkait dengan &lt;em&gt;qiyamul lail&lt;/em&gt; di bulan Ramadhan. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Rasulullah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat, setelah itu beliau shalat witir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau hingga datang waktu fajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Pagi harinya, kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Rasulullah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;sesungguhnya kami menunggumu tadi malam dengan harapan engkau akan shalat bersama kami”. “Sungguh aku khawatir kalau akhirnya shalat itu menjadi wajib atas kalian”, jawab beliau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Sebagai seorang pakar hadits, Ibnu Hibban menjadi panutan para ulama hadits. Adapun di bidang fiqih, ia menjadi penganut mahdzab Syafi’i. Bahkan biografinya termaktub dalam &lt;em&gt;Thaqabat asy-Syafi’iyyah&lt;/em&gt;, sebuah kitab yang merekam biografi para ulama mahdzab Syafi’i.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Sumber: Dzulmani, Mengenal Kitab-kitab hadits. Terbitan Pustaka Insan Madani, Yogyakarta. 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-5374086804544222119?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/5374086804544222119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/03/ibn-hibban_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/5374086804544222119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/5374086804544222119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/03/ibn-hibban_21.html' title='Ibn Hibban'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-1449425386010760564</id><published>2009-03-01T21:05:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T21:07:35.224-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Perowi Hadits Wanita</title><content type='html'>&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Peringkat perowi Hadits istri-istri Nabi dilihat dari jumlah hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 451.25pt; border-collapse: collapse;" width="602" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Peringkat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Nama istri Nabi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Jumlah Hadits&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;1&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aisyah binti Abu Bakr&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;3145&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;2&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hindun binti Abi Umayyah&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;290&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;3&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maimunah binti al Harits&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;88&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;4&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hafshah binti Umar al Khattab&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;79&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;5&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ramlah binti Abi Sufyan&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;72&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;6&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Shafiyyah binti Hayyi bin Akhtab&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;16&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;7&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Zainab binti Jahsy&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;15&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;8&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Juwairah binti al Harits&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;7&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 59.4pt;" valign="top" width="79"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;9&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 179.45pt;" valign="top" width="239"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saudah binti Zam’ah&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 101.7pt;" valign="top" width="136"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;3&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.7pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Perowi Wanita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rawi wanita yang memberikan kontribusi dalam periwayatan hadits Nabi berjumlah 78 rawi dengan rincian:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;- 25 perowi keluarga dekat Nabi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(9 perowi dari istri Nabi, 2 perowi dari putrid Nabi, 2 perowi dari mertua Nabi, 1 perowi dari bibi Nabi, 2 perowi dari sepupu Nabi, 5 perowi dari saudara perempuan ipar atau putri ipar Nabi, 4 perowi maula (abdi) Nabi )&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;- 53 perowi selain keluarga dekat Nabi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tema umum periwayatan berkisar pada persoalan keluarga dan perempuan, baik ibadah atau hak-hak sisialnya. Terkecuali Aisyah yang hampir meriwayatkan semua hadits dari berbagai tema. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penilaian ulama mengenai rawi wanita tidak berbeda dengan rawi sahabat laki-laki yang telah dianggap adil. Namun perkembangan selanjutnya, peran perowi wanita seakan hilang terutama ketika masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Hal ini kemungkinan akibat akulturasi &lt;st1:city st="on"&gt;Byzantium&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Persia&lt;/st1:country-region&gt; dan Asiria yang mentradisikan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hedonis sebagai keberhasilan dan kembali wanita sebagai sasarannya.&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;m.Yasin..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-1449425386010760564?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/1449425386010760564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/03/perowi-hadits-wanita.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1449425386010760564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1449425386010760564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/03/perowi-hadits-wanita.html' title='Perowi Hadits Wanita'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-4767063282447172614</id><published>2009-02-04T15:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T15:48:35.710-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>Sejarah karya Tafsir Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: times new roman; text-align: center; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Karya Tafsir &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;br /&gt;Dari pra kemerdekaan hingga era reformasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Surah Al-Kahfi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya tidak diketahui (Ulama Aceh abad 16 M, diperkirakan pada awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda 1607-1638, atau bahkan pada Sultan Ala Al-Din Ri’ayat Syah Sayyid Al-Mukammil (1537-1604)&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarjuman alMustafid&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Abd al-Rauf Al Sinkili (1615-1693)&lt;br /&gt;Ket : 30 Juz, masih lahir oleh ulama &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Quran hidjaatur rahman&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Munawwar Khalil (Era 1930-an)&lt;br /&gt;Ket bahasa Jawa&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Burhan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Abdul karim Amrullah (Era 1930-an)&lt;br /&gt;Ket bahasa melayu &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Al-Qur’an Al-Karim&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Mahmud yunus (1899-1973) dan H.M.K Bakry. (Era 1930-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an dai Masa ke Masa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Munawwar Khalil&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Al-Qur’an Al-Karim&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya H.A. Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahman Haitami (Medan:Firma Islamiyyah, 1956, edisi ke 9)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Al-Furqan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Ahmad Hassan &lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Al-Bayan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya T.M Hasby Ash-Shidieqy&lt;br /&gt;Ket : Tafsir Al-Bayan hasil dari karya sebelumnya yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Tafsir an-Nur&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tafsir an Nur&lt;/i&gt; hasil dari &lt;i&gt;Tafsir Qur’an Al Majied&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an dan Ajaran-ajarannya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Tujdimah (tahun 1965)&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an dan tafsirnya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Yayasan Penyelenggara dan penterjemah/ penafsir al-Qur’an (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an : Huruf Arab Latin&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Bachtiar Surin (tahun 1970an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makhluk Halus dalam Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Muhammad ali Usman (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ayat-Ayat Hukum, Tafsir Dan Uraian Perintah-Perintah Dalam Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Q.A. Dahlan Shaleh dan M.D. Dahlan (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Samudera Al-Fatihah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya Bey Arifin (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kandungan Surah Yasin&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Mafudli Sahli (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Surah Yasin&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Zainal Abidin Ahmad (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keajaiban Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Joesoef Sou’yb (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Al-Azhar&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Hamka (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Rahmat&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya H. Oemar Bakry (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita Besar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya H.B. Yassin (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Ayat Ahkam/ Tentang Beberapa Perbuatanpdana Dalam Hukum Islam&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Nasikun (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Segi-segi kesusastraan pada kisah-kisah al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Hanafi (tahun 1970-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an : Mu’jizat Terbesar Kekal Abadi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;H. Oemar Bakry (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kewajiban Orang Beriman Terhadap Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Syahminan Zaini (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tinjauan Psikologi Larangan Mendekati Zina Dalam Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Z. kasijan (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah Paham Terhadap Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Karya Imam Munawwir (tahun 1980-an)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Alqoeranoel Hakim Beserta Toedjoean dan Maksoednja&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya H. Iljas dan Abd. Jalil (Padang Panjang: 1925)&lt;br /&gt;Ket. Penafsiran Juz Amma pertama&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Bersambung,,,,,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Ditulis Oleh M.yasin&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-4767063282447172614?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/4767063282447172614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/sejarah-karya-tafsir-indonesia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/4767063282447172614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/4767063282447172614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/sejarah-karya-tafsir-indonesia.html' title='Sejarah karya Tafsir Indonesia'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-9053459200749327344</id><published>2009-02-02T20:34:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T20:39:08.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>Klasifikasi Kitab Tafsir</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;oleh M. Yasin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KITAB TAFSIR BI AL MA’TSUR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Jaamiul Bayan Fi Tafsir Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Ibn Jarir At Thabari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Bahrul Ulum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Lais As Samarqandy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Kasyaf Wa Al Bayan ‘An Tafsir Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Ishak Ats Tsa’laby&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ma’alinm At Tanzil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Muhammad Husain Al Baghawy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Muharrar Al Wajiz Fi Tafsir Al Kitab Al ‘Ajiz&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu ‘Athiyah Al Andulisy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Qur’an Al ‘Adzhim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Fada Al Hafidz Ibn Kasir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Jawahir Al Hasan Fi Tafsir Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abdur Rahman Ats Tsa’laby&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ad Dar Mantsur Fi Tafsir Al Ma’tsur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Jalaludin As Suyuthi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tanwir Al Miqbas Min Tafsir Ibn Abbas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Thahir Al Fayruzy Aabady.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR BI AR RA’YI&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Mafatihul Al Ghaib : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fakhrurazy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Anwar At Tanzil Wa Asrar At Ta’wil :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Al Baidhowy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Madarik At Tanzil Wa Haqaiq At Ta’wil :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; An Nasafy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani At Tanzil : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al Khozn&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Bahru Al Muhith : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Abu Hayyan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Jin : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jalal Al Muhly, Jalal As Suyuthy&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Gharaib Al Qur’an Wa Raghaib Al Furqan : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;An Naisabury&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Al Jalalain&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Jalal Al Muhly, Jalal As Suyuthy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Siraj Al Munir Fi ‘Ianat ‘Ala Ma’rifat Ba’dha Ma’any Kalam Rabbina Al Kitab Hakim Al Khabir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Khatib Syarbiny&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Irsyad Al Aql As Salim Ila Mazaya Al Kitab Al Karim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Su’ud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ruh Al Ma’any Fi Tafsir Qur’ani Al Adzhim Wa Sab’il Matsany&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; : Alusi&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR MU’TAZILAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tanzih Al Qur’an ‘An Al Mathain&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Al Qadhy ‘Abdu Al Jabar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Amaly Asy Syarif Al Murtadhy / Gharar Al Fawaidh Wa Dirar Al Qalaid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Syarif Radhy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Kasyaf An Haqaiq At Tanzil Wa ‘Uyun Al Aqawil Fi Wujuh At Ta’wil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Zamakhsyary&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR IMAMIYAH ITSNA ASYRIYYAH (SYIAH)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Al Hasan Al ‘Askary &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Muhammad Bin Mas’ud Bin Muhammad Bin ‘Iyas As Salamy Al Kufy &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir ‘Ali Bin Ibrahim Al Kumy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tibyan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Syaikh Abi Ja’far Muhammad Bin Hasan Bin ‘Ali Ath Thusy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Majmu Al Bayan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu ‘Ali Al Fadhl Bin Hasan Ath Thabrasy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ash Shafy&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Muhammad Bin Murtadhy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Ashfa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Muhammad Bin Murtadhy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Burhan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Hasyim Bin Sulaiman Bin Ismail Al Husainy Al Bahrany&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Mar’at Al Anwar Wa Masyakaty&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Maula Abdul Lathif Al Kazarany&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Muallaf&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Muhammad Murtadha Al Husainy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Maula Sayyid ‘Abdullah Bin Muhammad Ridha Al ‘Alwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Bayan As Sa’adah Fi Maqamati Al Ibadah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Sulthan Bin Muhammad Bin Haidar Al Kharrasany&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Alaa Ar Rahman Fi Tafsir Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Muhammad Jawad Bin Hasan An Najafy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR ZAIDIYAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Fathul Qadir : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Asy Syaukany&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR KHAWARIJ&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Himyan Az Zadi Ila Daar Al Ma’ad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Muhammad Ithfiyas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR AL ISYARY / SHUFIYAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir qur’an adzhim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Muhammad sahl bin ‘abdillah bin Yunus bin isa bin abdillah, at tastary &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Haqaiq Tafsir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Abdu ar rahman muhammad bin husain bin musa al azady as salmy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab ‘Arais al bayan fi Haqaiq al qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abu Muhammad ruzabihan bin abi nashr al baqaly asy syirazy ash shufy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab At Ta’wilat an Najmiyah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Najm ad Din dayah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir al Mansub&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; : abi ‘Araby dan Abi Muhammad bin abi an nashr asy syrazy&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;TAFSIR FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Tafsir al Faraby&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Tafsir Ikhwan ash shafa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tarjamah Ibn sina&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR FIQHIYYAH&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ahkam Al Qur’an (hanafiyah)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Abu Bakr, Ahmad Bin ‘Ali Ar Razy (Al Jashash)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ahkam Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (&lt;b&gt;Syafi’iyyah&lt;/b&gt;): ‘Imaduddin, Abu Hasan ‘Ali Bin Muhammad &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bin ‘Ali Ath Thabary (Kaya Al Harasy)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Iklil fi istimbath at tanzil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (&lt;b&gt;Syafi’iyyah&lt;/b&gt;) : jalaludin as suyuthy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ahkam Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (&lt;b&gt;Malikiyah&lt;/b&gt;) : Al Qadhi Abu Bakr Muhammad Bin ‘Abdillah Bin Muhammad Bin ‘Abdillah Bin Ahmad Al Ma’arify Al Andulisy, Al Isybily, Al Imam, Al Allamah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Jami Li Ahkam Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Abi Abdillah Al Qurtuby&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Kanzu al ‘irfan fi fiqh al qur’an (Itsna ‘Asyara)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; : Miqdad as suyury&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ats tsamarati al yaani’ah wa al ahkam al wadhihah al qathi’ah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; : yusuf ats tsalai&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;              &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;KITAB TAFSIR KONTEMPORER&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab AL Jawahir Fi Tafsir Al Qur’an Al Hakim : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Thanthawi Jauhary&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Al Hidayah Wa Al’irfan : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Abu Zaid Ad Damanhury&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Juz Amma &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Syaikh Muhammad Abduh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Surat Al Fatihah : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Syaikh Muhammad Abduh Dan Syaikh Rasyid Ridha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Al Qur’an Al Hakim (Al Manar):&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Syaikh Rasyid Ridha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Ad Durus Ad Diniyyah : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Syaikh Muhammad Mushthafa Al Maraghy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Fi Dzilal Al Qur’an : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sayyid Qutub&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Sofwat Tafsir &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Muhammad Ali Ash Shabuny&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kitab Tafsir Taisir Karim Rahman : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;As Sa’adi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-9053459200749327344?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/9053459200749327344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/klasifikasi-kitab-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/9053459200749327344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/9053459200749327344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/klasifikasi-kitab-tafsir.html' title='Klasifikasi Kitab Tafsir'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-440843025348381347</id><published>2009-02-02T01:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:26:26.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>cara penyusunan kitab hadits</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Macam-macam penyusunan kitab hadits&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Jawami’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu cara penyusunan hadits yang mengumpulkan semua bab, mulai dari bab Aqidah, ibadah, muamalah, sirah, manaqib, fitan dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Jami’ ash Shahih li al-Bukhari &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Masanid&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu cara penyusunan hadits yang dinisbatkan pada sahabat Nabi dari hasil riwayatnya sendiri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Musnad Ahmad bin Hambal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Sunan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu cara penyusunan hadits dengan bab berdasarkan tema Fiqh, berbeda dengan jawami’ yang mengumpulkan semua bab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Sunan Abu daud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Ma’ajim&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu cara penyusunan hadits atas nama syekhnya yang biasanya disusun secara alfabetis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Ma’ajim Ats-Tsalatsah &lt;/i&gt;karya Thabrany&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;‘Ilal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penyusunan kitab yang mengumpulkan hadits-hadits ‘ilal disertai penjelasan ‘ilalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;al-‘Ilal Li ibn Abi Hatim &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; Ilal Li Daruquthni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Ajzaa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebuah kitab kecil yang mengumpulkan riwayat yang berkaitan dengan tema tertentu yang diringkas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Juz Raf’u al-Yadain Fi Shalat &lt;/i&gt;karya Bukhari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Athraf&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penyusunan hadits dengan mengambil ujungnya saja yang mewakili isi dari keseluruhan hadits.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh penyusunan kitab ini adalah Kitab &lt;i&gt;Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifat al-Athraf &lt;/i&gt;karya &lt;i&gt;Al-Mizy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Mustadrak &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kitab yang menyusun hadits-hadits yang luput dari periwayatan tetapi memiliki kriteria kesohian rawi yang meluputkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Mustadrak ala Shohihaini&lt;/i&gt; karya Abdullah al-Hakim. Berisi hadits-hadits yang tidak tertulis di dalam kitab Bukhari dan Muslim tetapi keduanya meriwayatkan hadits tersebut dan memiliki kriteria keShohihan menurut Bukhari dan Muslim&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ditulis oleh M. yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-440843025348381347?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/440843025348381347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/cara-penyusunan-kitab-hadits.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/440843025348381347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/440843025348381347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/02/cara-penyusunan-kitab-hadits.html' title='cara penyusunan kitab hadits'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8230881416757503544</id><published>2009-01-29T02:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T02:34:52.400-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Singkat Imam Tirmizi</title><content type='html'>Sejarah Singkat Imam Tirmizi&lt;style fprolloverstyle=""&gt;A:hover {color: #808080} &lt;/style&gt;&lt;h1 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; color: rgb(204, 102, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejarah Singkat  Imam Tirmizi&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Khazanah keilmuan  Islam klasik mencatat sosok Imam Tirmizi sebagai salah satu periwayat dan ahli  Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama  lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami', atau biasa dikenal dengan kitab Jami'  Tirmizi, menjadi salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan  ilmunya, serta termasuk dalam Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits)  dan ensiklopedia Hadits terkenal. Sosok penuh tawadhu' dan ahli ibadah ini tak  lain adalah Imam Tirmizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan pada 279 H di kota Tirmiz, Imam  Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin  Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi. Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar  ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai  negeri, antara lain Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru Hadits  untuk mendengar Hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di  antara gurunya adalah; Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu,  ia juga belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin  Abdurrahman, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni', dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan  panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan mengumpulkan Hadits  itu mengantarkan dirinya sebagai ulama Hadits yang sangat disegani kalangan  ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya upaya mulianya  itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa  tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam  Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  kemudian hari, kumpulan Hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh  banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad  bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-Syasyi,  Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi, yang  meriwayatkan kitab Al-Jami' daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula  murid-murid Imam Tirmizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan ulama dan ahli Hadits mengakui  kekuatan dan kelebihan dalam diri Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan  ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi. Salah satu ulama itu, Ibnu Hibban  Al-Busti, pakar Hadits, mengakui kemampuan Tirmizi dalam menghafal, menghimpun,  menyusun, dan meneliti Hadits, sehingga menjadikan dirinya sumber pengambilan  Hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kalangan  ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang dapat dipercaya,  amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam  Tahzib At-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah salah  satu bukti kelebihan sang Imam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar Abu Isa At-Tirmizi  berkata, &lt;i&gt;"Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu  saya telah menulis dua jilid buku berisi Hadits-hadits berasal dari seorang  guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai  dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya  menemuinya. Dia mengira bahwa 'dua jilid kitab' itu ada padaku. Ternyata yang  kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip  dengannya. Ketika saya bertemu dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar  Hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan Hadits yang  telah dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat  bahwa kertas yang kupegang ternyata masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu  apa pun. Melihat kenyataan itu, ia berkata, 'Tidakkah engkau malu kepadaku?'  Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah  kuhafal semuanya. 'Coba bacakan!' perintahnya. Aku pun membacakan seluruhnya  secara beruntun. Ia bertanya lagi, 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang  kepadaku?' Aku menjawab, 'Tidak.' Kemudian saya meminta lagi agar dia  meriwayatkan Hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan 40 Hadits yang  tergolong Hadits-hadits sulit atau gharib lalu berkata, 'Coba ulangi apa yang  kubacakan tadi!' Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai, dan ia  berkomentar, 'Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.'  "&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal Hadits, mengetahui  kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli  fiqh dengan wawasan dan pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu  misalnya, dapat ditemukan dalam kitabnya Al-Jami'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian-kajiannya  mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat  berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Sebagai  tamsil, penjelasannya terhadap sebuah Hadits mengenai penangguhan membayar  piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut:  &lt;i&gt;"Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan  menceritakan kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah,  dari Nabi SAW, bersabda: Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si  berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu  dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan  utang itu diterimanya." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana penjelasan sang Imam? Berikut ini  komentar beliau, &lt;i&gt;"Sebagian ahli ilmu berkata: 'Apabila seseorang dipindahkan  piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu,  maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang  dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.'  Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: 'Apabila harta seseorang (muhtal)  menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal 'alaih, maka baginya dibolehkan  menuntut bayar kepada orang pertama (muhil). Alasannya adalah, tidak ada  kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut Ibnu Ishak, perkataan 'Tidak  ada kerugian atas harta benda seorang Muslim' ini adalah 'Apabila seseorang  dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata  orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang  Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu'."&lt;/i&gt; demikian penjelasan Imam Tirmizi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya  pemikiran fiqh Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash Hadits, serta betapa luas  dan orisinal pandangannya itu. Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis  puluhan kitab, diantaranya: Kitab Al-Jami', terkenal dengan sebutan Sunan  at-Tirmizi, Kitab Al-'Ilal, Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama'il an-Nabawiyyah,  Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asma' wal-Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal dengan  sebutan Kitab Jami' Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan  At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadits), kitab ini menjadi rujukan  utama, selain kitab-kitab hadits lainnya dari Imam Bukhari maupun Imam Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting lantaran kitab ini  betul-betul memperhatikan ta'lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan  secara eksplisit Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat  ke-4 dalam urutan Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun,  Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam  hierarki Kutubus Sittah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhari, atau  yang ditulis Imam Muslim dan lainnya, kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh  siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk  kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar apakah Hadits itu dipakai oleh  fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak. Sebaliknya, Tirmizi tidak  menyaring Hadits dari aspek Hadits itu dhaif atau tidak. Itu sebabnya, ia selalu  memberikan uraian tentang nilai Hadits, bahkan uraian perbandingan dan  kesimpulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: &lt;i&gt;"Semua Hadits  yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan."&lt;/i&gt; Oleh karena itu,  sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua Hadits,  yaitu: Pertama, yang artinya: &lt;i&gt;"Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat  Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab takut dan dalam  perjalanan.''&lt;/i&gt; Juga Hadits, &lt;i&gt;"Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang  keempat kalinya, maka bunuhlah dia."&lt;/i&gt; Hadits mengenai hukuman untuk peminum  khamar ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma' ulama pun menunjukkan demikian.  Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat  untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan  shalat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah  pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli Hadits juga  Ibn Munzir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa keistimewaan Kitab Jami' atau Sunan Tirmizi adalah,  pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam Hadits  pokok (Hadits al Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang  bertentangan sama sekali secara langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadits (ilmu-ilmu  Hadits) adalah masalah ta'lil Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan  nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini  dinilai positif karena dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah  ilmu Hadits, khususnya ta'lil Hadits tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="color:#000080;"&gt;Sumber:  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="EN-GB"&gt;&lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=172"&gt;http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=172&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8230881416757503544?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8230881416757503544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/sejarah-singkat-imam-tirmizi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8230881416757503544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8230881416757503544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/sejarah-singkat-imam-tirmizi.html' title='Sejarah Singkat Imam Tirmizi'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8508051816269247837</id><published>2009-01-28T02:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-21T06:39:04.446-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Tokoh'/><title type='text'>TOKOH</title><content type='html'>&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-bukhari.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-muslim.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muslim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-malik.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abu Daud&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/sejarah-singkat-imam-tirmizi.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tirmidzi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasai'i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibn Majah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Bin Hambal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syafii&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Baihaqi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2009/03/ibn-hibban_21.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;Ibn Hibban&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/imam-muhammad-nawawi-al-bantani.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" &gt;Muhammad Nawawi al Bantani&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8508051816269247837?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8508051816269247837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8508051816269247837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8508051816269247837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/tokoh.html' title='TOKOH'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8512177113728943600</id><published>2009-01-27T23:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T02:44:55.755-08:00</updated><title type='text'>Imam Bukhari</title><content type='html'>&lt;style fprolloverstyle=""&gt;A:hover {color: #808080} &lt;/style&gt;&lt;h1 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; font-weight: bold; color: rgb(204, 153, 51);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejarah Singkat  Imam Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; color: rgb(204, 153, 51);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kelahiran dan Masa Kecil Imam  Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Imam Bukhari  (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama  lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah  bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama  Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21  Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama  Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan  Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan  keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena  buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut).  Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah,  dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara  total.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Imam Bukhari adalah  ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini  bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu  Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki  derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil  Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir  semua ulama di dunia merujuk kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat beliau lahir kini termasuk  wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan  Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah  melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan  ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain,  juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah  kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal  Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967),  pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk  Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan  Cina.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keluarga dan Guru  Imam Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bukhari dididik  dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban  menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati  terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih  terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab  Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih.  Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Perhatiannya kepada  ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga  dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti  "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli  hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia  mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau  mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau  menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien"  (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Bersama gurunya  Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana  dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi  7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits  antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in,  Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al  Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya  dikutip dalam kitab Shahih-nya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kejeniusan Imam  Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bukhari diakui  memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak  sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya  mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya,  Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu  karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena  merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan  mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan  selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran  Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan  yang tidak sempat mereka catat. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Ketika sedang  berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang  ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut  mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan  Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali  secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi  kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh  hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan  penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang  sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam  waktu satu kali dengar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Selain terkenal  sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan  lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga  dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali  hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang  mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan  alat-alat perang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karya-karya Imam  Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Karyanya yang  pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum  di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18  tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke  Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah  beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah  berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu  malam bulan purnama".&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Karya Imam Bukhari  lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At  Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir,  Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain,  Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya  tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih  dikenal dengan nama &lt;b&gt;Shahih Bukhari&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Dalam sebuah  riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah  saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang  kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian  ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis  kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang  mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghimpun  hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan  kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan  hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh  untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara  pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari  senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya,  menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya  merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin  dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000  hadits selama 16 tahun."&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Banyak para ahli  hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim  Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab  Shahih Muslim). Imam Muslim  menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam  Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah,  para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang  mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh  dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru  Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin  Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penelitian  Hadits&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Untuk mengumpulkan  dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk  mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan  menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah,  Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad,  Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali.  Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah  beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak semua  hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi  dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits  tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu  terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari  menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang  dikenal sebagai Shahih Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan  diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik  yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para  perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para  ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada  para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari".  Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata  "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu  dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau  lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu  dipertimbangkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga  Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat.  Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek  keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun  berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam,  Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan  Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama  enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan  Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disela-sela kesibukannya  sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli  fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti  belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak  pernah luput memanah kecuali dua kali.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Metode Imam  Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Sebagai intelektual  muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab  yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga  ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi  pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama  yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga  mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal  hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah  (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan  beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat  beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga  berbeda pendapat dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara puluhan kitabnya, yang paling  masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-Shahih, yang  belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang  penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi  Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari  lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau  (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan  orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang  mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun  kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah  seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami'  as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah  hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan  kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih".  Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara  sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya  di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid  Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan  menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan  di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia  menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits  haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersungguh-sungguh ia  meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar  memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu  membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang  menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab  hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi  sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini  kecuali hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang hari, para  ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari  selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan  turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan  merupakan materi pokok dari sebuah bab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab  Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada  hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat  secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh  Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar  Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah  atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang  dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara  berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu  dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun  jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah.  Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab  Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu  hadits.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terjadinya  Fitnah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Muhammad bin Yahya  Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian  yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu,  ikuti dan dengarkan pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah  dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang  berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang  menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli :  "Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia  adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh  didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia."  Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya  itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya:  "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah  bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati  pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang itu terus  mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk,  sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah."  Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang  dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli  tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta  dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman  adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran  adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama  adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah  aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain  kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz  Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta." &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wafatnya Imam  Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika  penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya  agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka.  Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh  (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi  beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan  Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri  dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada  Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal  nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak  memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat.  Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;Sumber:    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;-  &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;                - &lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;                - &lt;a href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=173"&gt;http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=173&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;                - &lt;a href="http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1"&gt;http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;                - &lt;a href="http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm"&gt;http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8512177113728943600?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8512177113728943600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-bukhari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8512177113728943600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8512177113728943600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-bukhari.html' title='Imam Bukhari'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-462212592094015395</id><published>2009-01-27T00:05:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T02:45:05.525-08:00</updated><title type='text'>Imam Malik</title><content type='html'>&lt;style fprolloverstyle=""&gt;A:hover {color: #808080} &lt;/style&gt;&lt;h1 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sejarah Singkat  Imam Malik&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;Dalam sebuah  kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa  saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang  diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam.  Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur  Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila  sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat  lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari  manusia.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan  tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik.  ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang  pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan  duduk berdampingan dengan rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik yang bernama lengkap  Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman  bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan  wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial  tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya  adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke  Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama  Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah.  Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari  ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat  kehadiran ulama-ulama besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, dalam mencari ilmu  Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai  harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya.  Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi  sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki  seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik  pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian,  ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu  Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan  Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in  ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi  Rayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu.  Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam  dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi,  Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu  Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi  ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal  Imam Malik mencapai 1.300 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri pengajaran Imam Malik adalah  disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini  dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras  murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah  Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan  berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala  dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah,  Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan  Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah  Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji  setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun  merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka  tak sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at  tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam  Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur  Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera  Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak  keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan  orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang  penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan  keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim  utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada  sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di  ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan  uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun  ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir  hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di  seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis  bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang  shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah  apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik  tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat  pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri  kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari Al  Muwatta' Hingga Madzhab Maliki&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al Muwatta'  adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang  tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan  pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki  banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci  kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta' tak akan lahir bila Imam Malik tidak  'dipaksa' Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al  Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam  Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan  hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta'. Ditulis di masa Al Mansur (754-775  M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Islam mengakui  Al Muwatta' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah,  kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik  memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu  hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits.  Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang  berlainan. Selain Al Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al  Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan  mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain  fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al  Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar  Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al  Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al  Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi),  menjadi rujukan utama mazhab Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sangat konsisten  memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek  kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang  dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan  sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan  al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh  dalil tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah,  Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan  Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab  Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti  Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak  banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut  Mazhab Maliki.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;Sumber:  &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:12;"   lang="EN-GB"&gt;&lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=170"&gt;http://www.kotasantri.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-462212592094015395?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/462212592094015395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-malik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/462212592094015395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/462212592094015395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-malik.html' title='Imam Malik'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8868800253433853492</id><published>2009-01-26T23:22:00.000-08:00</published><updated>2009-03-21T05:17:03.725-07:00</updated><title type='text'>AGENDA NASIONAL APRIL 2009</title><content type='html'>&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Sabtu, 11 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kajian Gozwul Fikri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Adian Husaini. MA&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;09.00 - 11.30&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid Salman ITB &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Sabtu, 18 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Seni Berinteraksi dengan Alquran"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ustadz Saiful Islam Mubarak, Lc. M.Ag&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;09.00 - 11.30&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid Salman ITB&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Minggu, 19 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pengajian&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Memahami kandungan Surat Al Maidah”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Drs. KH. Sofyan Yahya, M.A.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Ruang Utama Mesjid Mujahidin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Jumat, 24 April 2009 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;”Bisnis Valas dalam Perspektif Ekonomi Islam” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;DR. Anton Athoilah, MM (Majelis Tarjih &amp;amp; Tajdid PWM Jabar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;14.0017.00 Wib&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Ruang Kajian Mesjid Mujahidin Jl. Sancang No. 6 &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Senin, 27 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ceramah umum Abdullah Gymnastiar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;19.00-21.00&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid BI Thamrin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Selasa-Kamis, 28-30 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Munas V FOZ (Forum Zakat)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Strategi Penguatan Sinergi Dalam Pengelolaan &amp;amp; Pemberdayagunaan Zakat”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tempat : Hotel Bumi Mandiri Jl. Basuki Rachmad 126-128 &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Sabtu, 25 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Pengaruh Shalat terhadap Kehidupan &amp;amp; Kepribadian"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ustadz Dudi Muttaqin&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;09.00 - 11.30&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid Salman ITB&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Minggu, 12 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ceramah umum Abdullah Gymnastiar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;12.30-15.00&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid Istiqlal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Selasa, 14 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ceramah umum Abdullah Gymnastiar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;19.00-21.00&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mesjid Raya Pondok Indah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Sabtu, 25 April 2009 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seminar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“SMART QOLBU MUSLIMAH”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Materi :    &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Wanita Bahagia denga Qolbun Salim&lt;br /&gt;Realita Wanita dan Keindahan&lt;br /&gt;Wanita Merancang Masa Depan&lt;br /&gt;Rahasia Kecantikan Wanita, dan Muhasabah Diri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tempat Pesantren DT (Dar Tauhid) &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8868800253433853492?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8868800253433853492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/agenda-nasional-februari-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8868800253433853492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8868800253433853492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/agenda-nasional-februari-2009.html' title='AGENDA NASIONAL APRIL 2009'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-3546628371653966748</id><published>2009-01-26T23:13:00.000-08:00</published><updated>2009-07-18T21:17:10.021-07:00</updated><title type='text'>BERITA ISLAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kitab Karya Ulama Indonesia Dibajak di Timur tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski pembajakan karya intelektual tidak dibenarkan, namun Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchith Muzadi (Mbah Muchit) justru menyatakan bangga ada kitab karangan ulama Nusantara yang dibajak oleh penerbit Timur Tengah dan dipasarkan masyarakat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kitab yang dikarang oleh ulama kita dari Jawa, Indonesia, &lt;em&gt;kog&lt;/em&gt; dibajak oleh orang Arab. Saya malah merasa bangga,” katanya di Depok, Jum’at (17/7), terkait kasus pembajakan kitab &lt;em&gt;Sirajut Thalibin&lt;/em&gt; karya Syeh Ihsan Dahlan, Kediri, oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan, kitab ini dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut. Nama pengarangnya diganti Syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi (wafat 1941), dan sambutan Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Muchith sendiri sebagai salah seorang murid KH Hasyim Asy’ari mengaku belum sempat belajar kepada Syeh Ihsan Dahlan atau lebih dikenal dengan Syeh Ihsan Jampes yang meninggal pada 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tahu bahwa waktu itu ada ulama yang alim, Kiai Ihsan Jampes, tapi saya belum sempat bertemu dengan beliau,” katanya sambil membaca pengantar KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Sirajut Thalibin asli yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga berada di Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kiai Muchit, kitab Sirajut Thalibin dua jilid yang merupakan syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali merupakan salah satu bukti kebesaran ulama Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkannya, selain Syekh Ihsan, banyak ulama Nusantara yang karya-karya mereka menjadi rujukan umat Islam seluruh dunia, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, dan Syekh Arsyad Al-Banjari. (nam)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-3546628371653966748?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/3546628371653966748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/kemenangan-hamas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/3546628371653966748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/3546628371653966748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/kemenangan-hamas.html' title='BERITA ISLAM'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-1509174386986943505</id><published>2009-01-26T20:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T20:30:37.530-08:00</updated><title type='text'>ISLAMIC DOWNLOADER</title><content type='html'>ISLAMIC DOWNLOADER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;tafsir Al Azhar Karya Buya Hamka    &lt;a style="color: rgb(153, 153, 153);" href="http://www.ziddu.com/download/3313551/tafsir_al-azhar.zip.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DOWNLOAD&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Al Qur’an Digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Sahih Bukhari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Sahih Mus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Bulughul Marom&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Syarah Arbain Nawawi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Tokoh Hadits&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;,Sekilas Ilmu Hadits&lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 153);" href="http://www.ziddu.com/download/3313961/HaditsWeb3.rar.html"&gt;DOWNLOAD&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab Sahih Muslim [lengkap], Kitab Malik’s Muwatta [lengkap], Sebagian Abu Dawud Dilengkapi dengan fasilitas pencarian kata, bookmark dan mudah untuk digunakan. Ukuran file 7.4 MB. (B. INGGRIS) &lt;a style="color: rgb(153, 153, 153); font-weight: bold;" href="http://www.ziddu.com/download/3314722/hadith.rar.html"&gt;DOWNLOAD&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Ibn Kasir &lt;span style="color: rgb(153, 153, 153); font-weight: bold;"&gt;DOWNLOAD&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Fi Dzilalil Qur'an &lt;a style="color: rgb(153, 153, 153); font-weight: bold;" href="http://www.ziddu.com/download/3332636/TafsirFiDzilalilQuran.rar.html"&gt;DOWNLOAD&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-1509174386986943505?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/1509174386986943505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/islamic-downloader.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1509174386986943505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1509174386986943505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/islamic-downloader.html' title='ISLAMIC DOWNLOADER'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-7228712147456667202</id><published>2009-01-26T18:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T18:13:16.105-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>METODE PENULISAN TAFSIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-link:"Footnote Text Char";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar  {mso-style-name:"Footnote Text Char";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Footnote Text";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;}  /* Page Definitions */  @page  {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;  mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;  mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;  mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:292684577;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1074345962 -650982410 -1488843292 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-number-format:alpha-upper;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l0:level2  {mso-level-tab-stop:105.0pt;  mso-level-number-position:left;  margin-left:105.0pt;  text-indent:-51.0pt;} @list l1  {mso-list-id:725955208;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:945818130 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l2  {mso-list-id:1040974425;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:872440924 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l3  {mso-list-id:1479034940;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:813467846 -1118120104 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l4  {mso-list-id:1862278435;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-14365874 67698713 270438016 67698711 572398780 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l4:level2  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level3  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-text:"%3\)";  mso-level-tab-stop:117.0pt;  mso-level-number-position:left;  margin-left:117.0pt;  text-indent:-.25in;} @list l4:level4  {mso-level-number-format:alpha-upper;  mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b&gt;METODE PENULISAN TAFSIR&lt;br /&gt;Muhammad Yasin&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Jika ditelusuri perkembangan tafsir al-Qur’an sejak dahulu sampai sekarang, maka dapat ditemukan bahwa penafsiran al-Qur’an secara garis besar ditempuh melalui empat metode, Metode tafsir yang dimaksud disini adalah suatu perangkat dan tata kerja yang digunakan dalam proses penafsiran al-Qur’an. Ke empat metode tersebut diantaranya adalah sebagai berikut : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt; Metode Ijmali (global) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode ini menjelaskan ayat-ayat al Qur’an secara ringkas tetapi mencakup dengan bahasa yang popular, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistem penulisan metode ijmali menuruti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Di samping itu, penyajiannya tidak terlau jauh dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bahasa al-Qur’an sehingga pendengar dan pembaca seakan-akan masih tetap mendengar al-Quran padahal yang didengar itu adalah tafsirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt; Metode Tahlili (analisis) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode ini menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Dalam metode ini, biasanya mufassir menguraikan makna yang dikandung oleh al-Qur’an, ayat demi ayat dan surah demi surah sesuai dengan urutannya di dalam mushaf. Uraian tersebut menyangkut berbagai aspek yang didukung ayat yang ditafsirkan seperti pengertian kosakat, konotasi kalimat, latar belakang turun ayat, kaitannya dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya dan tidak ketinggalan pendapat-pendapat yang telah diberikan berkenaan dengan tafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi, sahabat, para tabi’in maupun ahli tafsir lainnya. Metode analisis mempunyai ruang lingkup yang teramat luas. Metode tafsir ini dapat digunakan oleh mufassir dalam dua bentuk, yaitu ma’tsur dan ra’yi dapat lagi dikembangkan dalam berbagi corak penafsiran sesuai dengan keahlian masing-masing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;3. Metode Muqarran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode muqarrin atau muqarran adalah suatu metode tafsir yang menggunakan cara perbandingan. Metode ini bermaksud menemukan dan mengkaji perbedaan-perbedaan antara unsur-unsur yang diperbandingkan, baik untuk tujuan menemukan unsur yang benar diantara yang kurang benar, ataupun untuk tujuan memperolah gambaran yang lebih lengkap mengenai masalah yang dibahas dengan jalan penggabungan (sintesis) unsur-unsur yang berbeda itu.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Unsur-unsur yang diperbandingkan dapat dikatagorikan ke dalam tiga kelompok :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, unsur ayat (al-Quran) dengan ayat. Kelompok ini terbagi menjadi dua :&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;unsur ayat dengan ayat lainnya yng membahas kasus      yang sama, tapi dengan redaksi yang berbeda.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Unsur ayat dengan ayat lainnya yang membahas kasus      yang berbeda, tapi dengan redaksi yang mirip. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, unsur ayat dengan unsur hadits yang membahas kasus yang sama, tapi dengan pengertian yang tampak berbeda, atau malah bertentangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, unsur penafsiran mufassir tertentu dengan mufassir lainnya mengenai ayat-ayat al-Quran yang sama.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Latar belakang munculnya metode ini yaitu, pembandingan unsur ayat dengan ayat lainnya, sedikit banyak sejalan dengan latar belakang atau motif yang memunculkan metode munasabat, atau mungkin juga metode maudhu’i. hal ini berhubungan dengan dua sifat al-Quran : pertama, al-Quran mengkalim sebagai suatu kitab yang mencakup segala sesuatu (Q.S. 2:38). Kedua, al-Quran juga mengklaim sebagai suatu kitab yang bebas dari kontradiksi (Q.S. 4:82). Karena itu setiap perbedaan redaksi tidak boleh mengimplikasikan perbedaan makna, atau ia dimaksudkan untuk dua makna yang tidak saling terkait, atau ia harus dibuktikan tidak saling bertentangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manfaat tafsir muqarran adalah memperoleh pengertian yang paling tepat dan lengkap mengenai masalah yang dibahas, dengan jalan melihat perbedaan-perbedaan diantara berbagai unsur relevan yang diperbandingkan. Sedangkan manfaat khususnya adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, dalam perbandingan ayat dengan ayat, metode ini memusatkan perhatian pada penggalian hikmah di balik variasi redaksi ayat untuk kasus yang sama dan pemilihan redaksi yang mirip untuk kasus yang berbeda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, dalam perbandingan ayat al-Quran dengan hadis, jika pada perbandingan ayat dengan ayat dapat menggali kedua unsure yang diperbandingkan, maka dalam metode ini dapat digali dari salah satu unsur saja, yaitu unsur ayat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;dalam perbandingan unsur penafsiran seorang mufassir dengan mufassir lainnya, ada beberapa manfaat yang dapat dipetik : &lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;mengetahui orisinalitas penafsiran seorang mufassir. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dapat mengungkap kecenderungan mufassir, baik      kecenderungan madzhab, sektarian, keilmuan, konteks zamani dan lain      sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dapat mengungkap kekeliruan seorang mufassir,      sekaligus mencari pandangan yang paling mendekati kebenaran.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dapat mengungkap sumber-sumber perbedaan pendapat di      kalangan mufassir, ataupun perbedaan pendapat di antara berbagai kelompok      umat Islam.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dapat menjadi sarana bagi pendekatan diantara      berbagai ulama tafsir.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Dapat membawa kepada pemahaman yang lebih lengkap      mengenai kandungan ayat-ayat al-Quran, dengan menggabungkan berbagai      pemahaman ulama tafsir dari berbagai aliran tafsir. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;4. Metode Maudhu’I (tematik) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode ini membahas ayat-ayat al-Quran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan, dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti kosakat. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal dari al-Quran, hadis, maupun pemikiran rasional. Sesuai dengan namanya tematik, maka yang menjadi ciri utama dari metode ini adalah menonjolkan tema, judul, atau topik pembahasan, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa metode ini disebut metode topikal.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode maudhu’i muncul karena terinspirasi dari wacana keislaman yang mengfokuskan pada tofik tertentu dengan landasan-landasan yang diambil dari al-Quran, wacana tersebut berupa karya tulis, diantaranya &lt;i&gt;Al-Insan fi Al-Quran&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Al-Mar’ah fi Al-Quran&lt;/i&gt; karya Abbas Mahmud Al-Aqqad, atau Al-Riba fi Al-Quran karya Al-Maududi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Metode Maudhu’I pertamakali dikenalkan oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy, Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir sampai tahun 1981. Beberapa dosen Tafsir di universitas tersebut telah berhasil menyusun banyak karya ilmiah dengan menggunakan metode tersebut. Antara lain Prof. Dr. Al-Husaini Abu Farhah menulis &lt;i&gt;Al-Futuhat Al-Rabbaniyyah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’i li Al-Ayat al-Qur’aniyyah&lt;/i&gt; dalam dua jilid yang kemudian disusul oleh Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar dengan menerbitkan buku &lt;i&gt;Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’I&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada tahun 1977.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk melakukan metode maudhui adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penetapan masalah yang dibahas&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="EN-AU"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="EN-AU"&gt;Menulis runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="EN-AU"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kosakata ayat dengan merujuk kepada penggunaan al-Quran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="EN-AU"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="EN-AU"&gt;Memasukan asbabun Nuzul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Keistimewaan metode ini adalah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;menghindari problem atau kelemahan metode lain yang digambarkan dalam uraian di atas;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi, satu cara terbaik dalam menafsirkan al-Quran; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena ia membawa pembaca kepada petunjuk al-Quran tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu. Juga dengan metode ini, dapat dibuktikan bahwa persoalan yang disentuh al-Quran bukan bersifat teoretis semata-mata dan atau tidak dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dengan begitu ia dapat membawa kita kepada pendapat al-Quran tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban jawabannya. Ia dapat memperjelas kembali fungsi al-Quran sebagai Kitab Suci. Dan terakhir dapat membuktikan keistimewaan al-Quran. Selain itu,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dalam al-Quran. Ia sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat-ayat al-Quran sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Yudhie R. Haryono, May Rachmawatie. &lt;i&gt;Al Qur’an buku yang menyesatkan dan buku yang mencerahkan&lt;/i&gt;, Gugus Press, Bekasi, 2002. hal 151&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ibid,. hlm.147-148&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Drs. M. Yatimin Abdullah, MA. &lt;i&gt;Studi Islam kontemporer&lt;/i&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 2006, hlm.263&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-7228712147456667202?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/7228712147456667202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/metode-penulisan-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7228712147456667202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7228712147456667202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/metode-penulisan-tafsir.html' title='METODE PENULISAN TAFSIR'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-2533571008165789295</id><published>2009-01-26T18:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T18:13:21.957-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>CORAK TAFSIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CORAK TAFSIR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Yasin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Corak Sastra Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Ketika teks al-Quran diwahyukan dan dibaca oleh Nabi, ia sesungguhnya telah transformasikan dari sebuah teks Ilahi menjadi sebuah konsep atau teks manusiawi. Sebab, secara langsung berubah dari wahyu menjadi interpretasi. Dari sini makna-makna yang dikonsepsikan harus dilihat dari konteks bahasa dimana bahasa tersebut dipakai, yaitu bahasa Arab. Dalam konteks ini, analisis bahasa menjadi signifikan.&lt;br /&gt;Dalam hermeneutika al-Qur’an kontemporer, langkah semacam ini adalah bagian pokok dari kerja interpretasi. Dalam suatu kasus, bisa jadi karya satu tafsir memilih langkah analisis kebahasaan ini sebagai variable utama. Dalam konteks inilah nuansa kebahasaan dimaksudkan, yaitu proses interpretasi dalam karya tafsir yang dominan digunakan adalah analisis kebahasaan.&lt;br /&gt;Sistem kerja nuansa tafsir bahasa ini dimulai dengan menguraikan asal-usul katanya, perubahannya, keragaman maknanya, serta bangunan semantiknya dengan kata-kata yang lain. Perangkat yang digunakan dalam analisis ini tidak lepas dari Ilmu nahwu, sharaf, balaghah, mantik dan perangkat kebahasaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Corak Sosial Kemasyarakatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Corak ini menitikberatkan penjelasan ayat al-Qur’an dari segi :&lt;br /&gt;a. Ketelitian redaksinya&lt;br /&gt;b. Kandungan ayat-ayat tersebut dalam suatu redaksi dengan tujuan utama memaparkan tujuan-tujuan al-Quran, aksentuasi yang menonjol pada tujuan  utama yang diuraikan al-Quran&lt;br /&gt;c. Penafsiran ayat dikaitkan dengan sunatullah yang berlaku dalam  masyarakat&lt;br /&gt;Seperti yang diupayakan Muhammad Abduh, nuansa tafsir sosial kemasyarakatan ingin menghindari adanya kesan cara penafsiran yang seolah-olah menjadikan al-Qur’an terlepas dari akar sejarah kehidupan manusia, baik secara individu maupun sebagai kelompok. Akibatnya tujuan al-Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan manusia menjadi terlantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Corak Filsafat dan Teologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Corak rasional telah melahirkan berbagai nuansa tafsir berbarengan dengan berkembangnya paham-paham di dalam umat Islam. Kaum Mu’tazilah tampil dengan menakwilkan ayat al-Quran sesuai dengan teologi muktazilah. Begitu juga dengan teologi yang lainnya. Dalam paham muktazilah lahirlah al kasyaf karya Zamakhsyari. Sedangkan dalam teologi al Asy’ariyah, muncul tafsir Mafatih Ghaib karya Fakhrur Razi. Di sisi lain juga terdapat tokoh yang dijadikan tolak ukur dari sebuah nuansa tafsir teologi, mereka adalah Ibnu Sina, Al farabi, hingga Ikhwan ash Shafa.&lt;br /&gt;Di dalam corak teologis ini, berbagai paham teologi menjadi variable penting di dalam menafsirkan al-Quran. Pengertian teologi disini jauh lebih  sekedar keyakinan ketuhanan, tetapi lebih dipandang sebagai suatu disiplin kajian yang membicarakan persoalan hubungan manusia dengan Tuhannya. &lt;br /&gt;Ranah nuansa teologis ini adalah mengungkap pandangan al-Quran secara komprehensif tentang keyakinan dan sistem teologi. Namun, proses yang dilakukan bukan dalam rangka pemihakan terhadap kelompok tertentu, yang sudah terbangun mapan dalam sejarah, tetapi lebih pada upaya menggali secara serius bagaimana al-Quran berbicara dalam soal-soal teologis itu dengan melacak tema-tema pokok, serta konteks-konteks di mana terma itu dipakai al-Quran.&lt;br /&gt;Pada periode modern Islam, tantangan yang dihadapi oleh kaum muslimin dalam masalah ketuhanan dapat dikatakan bersumber dari Barat. Warisan teori-teori ketuhanan yang diformulasikan para teolog Muslim klasik telah digunakan Barat untuk menyerang Islam, sehingga respon kaum Muslimin terhadap serangan ini lebih bersifat apologetis. Di sisi lain, terdapat juga ide-ide tentang Tuhan yang amat sublime dan spekulatif, serta dirumuskan selaras dengan perkembangan intelektualisme modern, terutama filsafat Barat. Namun penyerangan ini mendapatkan perlawanan dari kalangan Umat Islam diantaranya oleh Amir Ali, Rahman, Muhammad Daud Rahbar, Ahmad Khan, Iqbal, Abul kalam Azad dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Corak Tasawuf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi ilmu tafsir klasik, tafsir bernuansa tasawuf atau juga sufistik sering didefinisikan sebagai suatu tafsir yang berusaha menjelaskan makna ayat-ayat al-Quran dari sudut esotorik atau berdasarkan isyarat-isyarat tersirat yang tampak oleh seorang sufi dalam suluknya. Kata tasawuf sendiri menurut Dr. Muhammad Husen adz Dzahabi adalah transmisi jiwa menuju Tuhan atas apa yang ia inginkan atau dengan kata lain munajatnya hati dan komunikasinya ruh.&lt;br /&gt;Tafsir bernuansa tasawuf memiliki dua macam, yaitu :&lt;br /&gt;- Tasawuf Nadzari (teoritis) yaitu nuansa tafsir yang cenderung menafsirkan al-Quran berdasarkan teori atau paham tasawuf yang umumnya bertentangan dengan makna lahir ayat dan menyimpang dari pengertian bahasa.&lt;br /&gt;- Tasawuf amali (praktis), yaitu menakwilkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan isyarat-isyarat tersirat yang tampak oleh sufi dalam suluknya.&lt;br /&gt;Jenis yang terakhir ini oleh para ahli tafsir disebut tafsir isyari dan bisa diterima. Dengan syarat :&lt;br /&gt;1) Tidak bertentangan dengan lahir ayat&lt;br /&gt;2) Mempunyai dasar rujukan dari ajaran agama yang sekaligus berfungsi sebagai penguatnya&lt;br /&gt;3) Tidak bertentangan dengan ajaran agama dan akal&lt;br /&gt;4) Tidak menganggap bahwa penafsiran model itu yang paling benar sesuai dengan kehendak Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Corak Fiqih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulallah Saw memiliki ayat-ayat hukum fiqh yang berkaitan erat dengan kemaslahatan ibadah di dunia dan akhirat. Pada zaman Rasulallah permasalahan fiqh yang muncul langsung disodorkan kepada Rasulallah Saw. namun menjelang Beliau wafat permasalahan tersebut dikembalikan kepada al-Quran sebagai kitab suci umat Islam dan jika belum menemukan solusinya maka hal tersebut dikembalikan kepada sunnah Rasul namun jika tidak ditemukan juga maka ijtihad pun dituntut berperan penting sebagai jalan terakhir dalam menyelesaikan masalah fiqh.&lt;br /&gt; Tidak jarang perbedaan pendapat dalam beristimbath ini banyak ditemukan dikalangan para sahabat. Situasi ini terus berkembang hingga munculnya empat ulama madzhab yang menjadi patokan umum dalam mengambil keputusan hukum oleh sebagian umat Islam. Mereka adalah Imam Hanafi, Imam Syafi’i, imam Maliki. Sedangkan dalam kalangan syi’ah terdapat juga madzhab yang dikenal dengan  Zaidiyyah dan Imamiyah 12.&lt;br /&gt; Nampaknya inilah yang menjadi latar permunculan corak fiqh. Corak dimana pendapat dan kesimpulan hukum fiqh banyak ditemukan dalam kitab tafsir ini. Kitab dengan Corak fiqh ini diantaranya :&lt;br /&gt;- Ahkamul Qur’an karya al Jashshosh yang diklaim sebagai bentuk kerangka istimbath Imam Hanafi,&lt;br /&gt;- Ahkamul Qur’an karya Kayya al Harasy sebagai refresentasi Imam Asy Syafi’i,&lt;br /&gt;- Ahkamul Qur’an karya Ibn ‘Arabi yang mewakili Fiqh Imam Maliki,&lt;br /&gt;- Jamiu Li Ahkam Qur’an karya Abi Abdillah al Qurtuby yang mewakili Fiqh imam maliki,&lt;br /&gt;- Kanzu al ‘Irfan fi Fiqh Quran karya Miqdad as Saiwary yang mewakili Imam 12.&lt;br /&gt;-  ats Tsamarat Yaani’ah wa al Ahkam Wadhihah al Qaathi’ah karya Yusuf ats Tsalai yang mewakili Zaidiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Corak Ilmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Problema tantangan kontemporer yang dihadapi oleh para pembaru tafsir Al Qur’an baik di Indo-Pakistan maupun di wilayah Islam lainnya semakin pesat berkembang . J.J.G. Jansen mendefinisikan kecenderungan ini sebagai tafsir ilmiah (scientific exegesis), yaitu penafsiran yang berusaha untuk membuktikan bahwa sains-sains modern tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau bahkan sains-sains tersebut dapat dideduksi dari al-Qur’an. Sedangkan Muhammad Husain Adz Dzahabi mendefinisikan corak tafsir ini dengan ungkapan bahwa corak ini menjustifikasikan istilah-istilah ilmiah sebagai penjelasan al-Qur’an dan berijtihad dalam mengeluarkan pendapatnya yang berbeda dengan berbagai disiplin ilmu dan pendapat para filsafat.&lt;br /&gt;Tafsir ilmiah ini pada periode modern Islam di Indo-Pakistan diperkenalkan oleh Ahmad Khan. Dengan meletakkan prinsip “The word of Gog (Al Qur’an) must be in harmony with the work of God (nature),” dan bahwa al Qur’an juga menggunakan ungkapan-ungkapan metaforik, figurative, alegoris dan lainnya, ia telah menyiapkan landasan berkembangnya arah tafsir ilmiah. Landasan lainnya juga diletakkan Asaf A.A. Fayzi dalam prinsip “Penafsiran Kembali Fakta-fakta Kosmologis dan Saintifik,” di mana ia mengungkapkan:&lt;br /&gt;Dalam konteks apa pun Kitab Suci atau tradisi-tradisi lama berbicara tentang fenomena kealaman atau fakta-fakta ilmiah, maka corak dogmatiknya terbuka untuk dipermasalahkan. Ayat-ayat Kitab Suci Tersebut harus diinterpretasikan dan diterima, dimodifikasi atau ditolak, dalam terma-terma sains modern, termasuk antropologi, biologi, fisika, matematika, kimia, dan kedokteran. Konsep-konsep tentang dunia, waktu dan alam semesta telah berubah secara radikal sejak zaman Copernicus. Islam harus memperhatikan perubahan-perubahan ini dan hal-hal yang tidak ilmiah harus dihilangkan dari struktur agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Fayzi telah meletakkan landasan tafsir ilmiah, namun ia tampak belum menerapkan prinsip tersebut dalam penafsirannya. Hal ini berbeda dengan Ahmad Khan. Ketika menafsirkan terma al-‘alaq, Ahmad Khan berpendapat bahwa dalam al-Qur’an telah disebutkan adanya spermatozoon. Al-‘alaq, tahap kedua dari perkembangan embrio dalam al-Qur’an, diartikannya sebagai leeches, yang merupakan kumpulan dari sekian banyak spermatozoon dalam sperma seorang laki-laki. Demikian juga, Hafiz Ghulam Sarwar mengemukakan, penciptaan manusia dari lempung basah sebagai asal mula spesies telah dikemukakan al Qur’an jauh sebelum Darwin memimpikannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-2533571008165789295?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/2533571008165789295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/corak-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/2533571008165789295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/2533571008165789295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/corak-tafsir.html' title='CORAK TAFSIR'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-5549151650760794701</id><published>2009-01-26T17:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T18:03:10.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Jarh Wa Ta’dil</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault  {mso-style-type:export-only;  margin-bottom:10.0pt;  line-height:115%;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:228197483;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:1924840052 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l0:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l0:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l0:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l0:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l1  {mso-list-id:317030338;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-254796982 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l1:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l1:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l1:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l1:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l2  {mso-list-id:514734636;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-242081796 67698703 1064083422 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level2  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level3  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level4  {mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level5  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level6  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level7  {mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level8  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level9  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3  {mso-list-id:532108340;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1251563204 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l3:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l3:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l3:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l3:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l4  {mso-list-id:648747796;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1717416466 -1377827654 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l4:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l4:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l4:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l4:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l5  {mso-list-id:795562732;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-162857748 67698703 1064083422 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level2  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level3  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level4  {mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level5  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level6  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level7  {mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level8  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level9  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6  {mso-list-id:1011374633;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1946664232 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level2  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level3  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level4  {mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level5  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level6  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level7  {mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level8  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6:level9  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7  {mso-list-id:1174418807;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-890328500 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level2  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level3  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level4  {mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level5  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level6  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level7  {mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level8  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l7:level9  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8  {mso-list-id:1418214756;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:305300852 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level2  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level3  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:1.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level4  {mso-level-tab-stop:2.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level5  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:2.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level6  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:3.0in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level7  {mso-level-tab-stop:3.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level8  {mso-level-number-format:alpha-lower;  mso-level-tab-stop:4.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l8:level9  {mso-level-number-format:roman-lower;  mso-level-tab-stop:4.5in;  mso-level-number-position:right;  text-indent:-9.0pt;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l9  {mso-list-id:1513454401;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-2020974912 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l9:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l9:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l9:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l9:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l9:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l9:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l9:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l9:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l9:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l10  {mso-list-id:1952934351;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:334421678 1064083422 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l10:level1  {mso-level-start-at:0;  mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:-;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l10:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l10:level3  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:1.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:1.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l10:level4  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:2.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l10:level5  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:2.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:2.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l10:level6  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} @list l10:level7  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:3.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:3.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Symbol;} @list l10:level8  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:4.25in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.25in;  text-indent:-.25in;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l10:level9  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:4.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:4.75in;  text-indent:-.25in;  font-family:Wingdings;} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jarh Wa Ta’dil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;Muhammad Yasin&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Definisi&lt;/b&gt; jarh wa Ta’dil : yaitu suatu Ilmu yang membahas jarh (sifat tercela rawi) dan ta’dil (sifat terpuji rawi) dengan mengunakan lafadz dan peringkat lafadz tertentu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Tujuan&lt;/b&gt; jarh wa ta’dil : memelihara syari’at yang bertujuan memberikan nasihat dan tidak mencela sifat jelek rawi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam mengkritik rawi tidak boleh melampaui batas yang diperlukan. Jika seseorang sudah menjatuhkan satu penilaian yang mengena tidak diperbolehkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberikan penilaian jarh yang lainnya. Ibn Daqiqil id (202 H) mengatakan “Hal yang paling riskan menyangkut para ahli hadits dan para hakim adalah perihal harga diri manusia, karena mereka bagaikan berdiri di tepi lubang dari lubang-lubang neraka”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;A. Jarh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menurut bahasa : bentuk masdhar dari jaraha&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menurut istilah : penolakan rawi yang hafidz dan mutqin terhadap periwayatan perowi karena adanya cacat yang melukai periwayatan baik dari segi dhobith (intelektualitas) atau ‘adalah (moralitas).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ada 10 bentuk kecacatan perowi, yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Segi dhobith (intelektualitas)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lemah hafalan (su’u hifdzi)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Banyak salah (fahsyu ghalath)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sering lupa (ghaflah)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Banyak ragu (Wahmu)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bertentangan dengan perowi yang dapat dipercaya      (Mukhalafat Tsiqat)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Segi ‘adalah (moralitas).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mendustakan kepada Rasul (kidzbu ‘ala Rasulillah)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tertuduh dusta (tuhmah bi kidzbi)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Fasik dalam tindakan dan ucapan yang tidak sampai      pada kufur (fisqu bi fi’li aw bi qawli alladzi la yablugh hadda kufri)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;perowi tidak dikenal (jahalah)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;penganut bid’ah (bid’ah)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;B. Ta’dil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Secara Bahasa : Taqwim (tegak), tazkiyah (bersih), taswiyah (seimbang)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menurut Istilah : menyebutkan keadaan perowi yang diterima periwayatannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Syarat-syarat rawi yang diterima periwayatannya :&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Adil (moralitas)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Islam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Baligh&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Berakal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Terbebas dari fasik (tidak melakukan dosa besar)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Terbebas dari kejelekan kredibilatas (muru’ah)&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dhabth (intelektualitas)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dhabth shard&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dhabth kitab &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Para Sahabat yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Umar bin Khattab (23 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ali ibn Abi Thalib (40 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdullah ibn Abbas &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdullah ibn Salam (43 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ubadah ibn Shamit (34 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Anas ibn Malik (93 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aisyah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Para Tabi’in yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sa’id ibn Musayyab (94 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sa’id ibn Jubair (95 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Atha ibn Abi Rabah (114 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Urwah ibn Abi Zubair ibn Awwam (92 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdurrahman al A’raj (117 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Shalih Zakwan (101 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Hasan ibn Abi Hasan Bisri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Muhammad ibn Sirin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Anas ibn Sirin&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu al Aliyyah Rayahi Rafi’ ibn Mahran (90 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Malik ibn Dinar (131 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Amir Sya’abi (103 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibrahim an Nakha’I (96 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Masruk al Hamdani (63 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rubay ibn Khaitsam (64 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Hammad ibn Abi Sulaiman (120 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sa’ad ibn Ibrahim az Zuhri (124 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rubay’ah ibn Abi Abdirrahman (136 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ayyub ibn Abi Taymah Sakhtiyani (13 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sulaiman ibn Mahran al A’masy (148 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Hushain ibn ‘Ashim al Asadi (128 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Para Tabiut Tabi’in yang terkenal melakukan jarh wa ta’dil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Syu’bah al Hajjaj&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sufyan ibn Sai’d ats Tsauri (161 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdurrahman ibn al Awza’I (157 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Malik Ibn Anas (179 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Husyaim ibn Basyir (183 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sufyan ibn Uyaynah (198 H)Yahya ibn sai’d al Qaththan (194 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdullah ibn Al Mubarak (181 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Jarir ibn Abdil Hamid (188 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fadhal ibn Musa Saynani (192 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Generasi berikutnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Waki ibn Jarrah (196 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Abdurrahman ibn Mahdi (198 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sufyan ibn Ziyad Bashri/ Ra su&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muzhaffar ibn Mudrik Abu Kamil (207 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muhammad ibn Idris Syafi’i (204 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Mushir Abdul A’la ibn Mushir Ghassani (218 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sa’id ibn Manshur Abu Utsman Khurasani (245 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Generasi berikutnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Ahmad ibn Hanbal (241 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Ali ibn Abdillah ibn Ja’far al Madini (234 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Yahya ibn Ma’in (233 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdurrhman ibn Ibrahim Duhaym Dimsyaqi (245 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibrahim ibn Muhammad ibn ‘Ir’irah (231 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Khalaf ibn Salim (274 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ishaq ibn Rahuwiyah (238 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muhammad ibn Abdullah ibn Numair (214 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sulaiman ibn Dawud Abu Ayub Syadzakuni (234 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Bakr ibn Abi Syaibah (235 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Amr Ibn Ali Abu Hafs al Fallas (249 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Generasi berikutnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Muhammad ibn Isma’il al Bukhari (256 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Abu Zur’ah Abdullah ibn Abd Karim al Razi (264 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Muhammad ibn Idris Aba Hatim al Razi (277 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muhammad ibn Muslim ibn Warah (270)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muhammad ibn ‘Auf al Hamshi (272 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Yazid Abd Shamad (277)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdurrahman ibn Amr Abu Zur’ah (281 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dimsyqiyani Muhammad ibn Yahya ibn Katsir al Harani / lu’lu (267 H) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Ishaq Ibrahim ibn Awramah al Ashfahani (271 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ubaid al ‘Ijl al husain ibn Muhammad ibn Hatim (394 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Shalih ibn Muhammad Abu Ali al Baghdadi/ Jazrah (293 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (290 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Musa ibn Harun al Hammal (290 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdan al Ahwadzi (306 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib al Nasai (303 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abdullah ibn Muhammad ibn Sayyan al Farhadzani&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al Husain ibn Muhammad Dawud Abu ‘Urwah al Harani (318 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ali ibn Sa’id ibn Basyir ibn ‘Alayka al Razi (297) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Adz Dzahabi di dalam kitab Mizan I’tidal membagi perowi pada tiga kelompok&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Mutasyadid (keras)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;Muta’anith (ketat) di dalam jarah dan mutatsabit (ketat) di dalam ta’dil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Diantara tokohnya adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Jauzani&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Hatim al Razi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Muhammad ibn Idris&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Muhammad Abdurrahman ibn Abi Hatim&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nasa’i&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Syu’bah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Qaththan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Ma’in&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Al Madini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Yahya al Qaththan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Mutasahhil (longgar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Diantara tokohnya adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Turmudzi (279 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al Hakim &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Hibban (354 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al Bazzar (292 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Syafi’i&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Thabrani (360 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Bakr al haitsami (807 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mundziri (656 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Thahawi (321)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Khuzaimah (311 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Sakan (353 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Baihaqi (358 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Baghawi (510 H) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Mu’tadil (kelompok tengah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bukhari&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daruquthni (385 H)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ahmad&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Abu Zur’ah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Adi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dzahabi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Hajar al asqalani&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tingkatan Ta’dil&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata yang menunjukan mubalaghah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;اوثق الناس&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أضبط الناس&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ليث له نظير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;(tiada bandingannya)&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata-kata&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;فلان لا يسأل عنه&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;فلان لا يسأل عن مثله&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata tsiqot diringi sifat lainnya&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثقة ثقة&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثقة مأمون&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثقة حافظ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata sifat ‘adil dengan yang menunjukan kedhabitan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثبة&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;متقن&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;عدل إمام حجة&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;عدل ضابة&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="5" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata sifat adil tetapi tidak menggambarkan kedhabitan      &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;صدوق&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;مأمون&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;لابأس به&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="6" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;شيخ صدوق إنشاء الله&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ليس ببعي من الصواب&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-5549151650760794701?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/5549151650760794701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/jarh-wa-tadil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/5549151650760794701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/5549151650760794701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/jarh-wa-tadil.html' title='Jarh Wa Ta’dil'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-6253717011161215652</id><published>2009-01-22T03:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T03:56:19.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KONTAK KAMI'/><title type='text'>Muhammad Yasin</title><content type='html'>&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/mia/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;!-- END: Album Thumbnail Element 1 --&gt;&lt;!-- BEGIN: Album Thumbnail Element 2 --&gt;&lt;!-- END: Album Thumbnail Element 2 --&gt;&lt;!-- BEGIN: Album Thumbnail Element 3 --&gt;             &lt;input name="mediaUrl_3" id="mediaUrl_3" value="http://i591.photobucket.com/albums/ss356/muhammadyasin/P1000425.jpg" type="hidden"&gt;         &lt;input name="mediaTitle_3" id="mediaTitle_3" value="M. Yasin, Marisha H." type="hidden"&gt;&lt;!-- END: Album Thumbnail Element 3 --&gt;&lt;!-- BEGIN: Album Thumbnail Element 4 --&gt;             &lt;input name="mediaUrl_4" id="mediaUrl_4" value="http://i591.photobucket.com/albums/ss356/muhammadyasin/P1000437.jpg" type="hidden"&gt;&lt;!-- END: Album Thumbnail Element 4 --&gt;&lt;!-- BEGIN: Album Thumbnail Element 5 --&gt;             &lt;input name="mediaUrl_5" id="mediaUrl_5" value="http://i591.photobucket.com/albums/ss356/muhammadyasin/gaya.jpg" type="hidden"&gt;         &lt;input name="mediaTitle_5" id="mediaTitle_5" value="Muhammad Yasin. S.Thi" type="hidden"&gt;                                                  &lt;a href="http://s591.photobucket.com/albums/ss356/muhammadyasin/?action=view&amp;amp;current=gaya.jpg"&gt;&lt;span class="outline"&gt;&lt;div class="mediaContainer"&gt;&lt;img class="media" src="http://s591.photobucket.com/albums/ss356/muhammadyasin/th_gaya.jpg" alt="gaya.jpg Muhammad Yasin. S.Thi image by muhammadyasin" title="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nama Lengkap : Muhammad Yasin&lt;br /&gt;TTL                    : Karawang 12,03,1984&lt;br /&gt;Alamat               : Kp. Jati No 649 Rengasdengklok utara Kab. Karawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 153, 51);font-size:130%;" &gt;Pendidikan        : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: SD utara IV Rengasdengklok&lt;br /&gt;                           : Tajhiziyyah Ponpes PERSIS 99 Rancabango Tarogong Garut&lt;br /&gt;                           : Tsanawiyyah Ponpes PERSIS 99 Rancabango Tarogong Garut&lt;br /&gt;                           : Muallimin Ponpes PERSIS 99 Rancabango Tarogong Garut&lt;br /&gt;                           : Ma'had al Imarat Bandung&lt;br /&gt;                           : STAI PERSIS Bandung Fakultas Ushuludin Jur. Tafsir Hadits&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 153, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan          :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: Distributor kitab impor&lt;br /&gt;                           : Owner VIO UKHUWWAH (distributor buku dan cd,mp3, dvd,software Islami)&lt;br /&gt;                           : Owner VIO Celluler&lt;br /&gt;                           : Marketing CHADIPA chanel Pariwara design&lt;br /&gt;                           : Wartawan tabloid alhikmah&lt;br /&gt;                           : Penulis artikel lepas di berbagai situs&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-6253717011161215652?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/6253717011161215652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/muhammad-yasin.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6253717011161215652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6253717011161215652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/muhammad-yasin.html' title='Muhammad Yasin'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-7909603771236246095</id><published>2009-01-21T23:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T02:46:12.123-08:00</updated><title type='text'>Imam Muslim</title><content type='html'>&lt;h1  style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejarah Singkat Imam  Muslim&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;Imam Muslim  dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul  Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi.  Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu  termasuk dalam sebutan &lt;i&gt;Maa Wara'a an Nahr&lt;/i&gt;, artinya daerah-daerah yang terletak  di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid,  Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150  tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota  kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di  kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak  usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau  mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung,  beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika  berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits,  yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai  berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan  hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak  ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas  rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah  hadits.  Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam  lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi  ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru  kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad  bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan  Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas  'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan  ulama ahli hadits lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung  kepada Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan  dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet  ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi  SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan  hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa  juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan  lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari  kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai  gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah  meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar  hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar  Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila  dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara  menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya  Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan  pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan  disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring  hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu  &lt;i&gt;jarh&lt;/i&gt;,  dan &lt;i&gt;ta'dil&lt;/i&gt;, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits.  Beliau juga menggunakan &lt;i&gt;sighat at tahammul&lt;/i&gt; (metode-metode penerimaan riwayat),  seperti &lt;i&gt;haddasani&lt;/i&gt; (menyampaikan kepada saya), &lt;i&gt;haddasana&lt;/i&gt; (menyampaikan kepada  kami), &lt;i&gt;akhbarana&lt;/i&gt; (mengabarkan kepada saya), &lt;i&gt;akhabarana&lt;/i&gt; (mengabarkan kepada kami),  dan &lt;i&gt;qaalaa&lt;/i&gt; (ia berkata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik  dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam  Bukhari. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat  orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu  Quraisy Al Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits  terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 0);" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Reputasinya  mengikuti gurunya Imam Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;Dalam khazanah  ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental,  setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau  lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang  jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang  luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih  karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah,  syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’  ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut  memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di  pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembaraan (&lt;i&gt;rihlah&lt;/i&gt;) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan  amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220  H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan  Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan  haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H.  Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan  Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru  besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium  kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits," pintanya, ketika di sebuah  pertemuan antara Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah,  sebagaimana al-Bukhari yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian  populer namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan muhsin  dari Naisabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan  merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan  fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan,  ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits."&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kitab Shahih Muslim&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang  paling utama adalah karyanya, &lt;b&gt;Shahih Muslim&lt;/b&gt;. Dibanding kitab-kitab hadits shahih  lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam  Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan  tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping  itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam  Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan  ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang  paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut.  Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada  setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat  menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih  pendapat dengan al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah  al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih  unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang  kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai  cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan  membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan  hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya  meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits  Muslim terasa sangat populis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033  hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana  dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika  didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51); font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Antara al-Bukhari dan Muslim&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya  Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih  Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis  dipengaruhi karya al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam  keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan  setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai  as-Shahihain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih  Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari  lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih  mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya  sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya  saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim,  antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi  yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat  dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan  "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari  segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi  derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada  rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada  perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan —  sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam  menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan  berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak membuat kesimpulan  dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim  dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih  tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karya-karya Imam Muslim&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’  wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5)  Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin  Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14)  Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri,  18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih  al-Masnad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13  masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari  judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar  minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 204, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wafatnya Imam Muslim&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;Imam Muslim wafat pada Ahad sore,  pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala  kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.  Amiin.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;     - &lt;a href="http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm"&gt; http://members.tripod.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;                &lt;span style="font-size:100%;"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"   lang="EN-GB"&gt; &lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;amp;artid=171"&gt; http://www.kotasantri.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-7909603771236246095?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/7909603771236246095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7909603771236246095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/7909603771236246095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/imam-muslim.html' title='Imam Muslim'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-6777636832284132473</id><published>2009-01-19T02:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:12:37.255-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>THURUQ TAFSIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;THURUQ TAFSIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Turuq tafsir merupakan langkah yang harus dilalui oleh seorang mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an secara ideal, Syekh Yusuf al Qardhawi menawarkan karakteristik ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui oleh para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Urutan turuq tafsir yang ideal menurut beliau adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, menggabungkan antara riwayah dengan dirayah. Pola tafsir seperti ini dilakukan dengan mengkombinasi antara tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al- ra’yi. Hal itu dilakukan guna menghindari kebiasaan para mufassir yang selama ini hanya memperhatikan riwayat dan atsar di satu pihak dan di pihak lain ada yang hanya memikirkan dirayah dan olah pikir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. al-Qur’an merupakan sebuah kesatuan yang integral, dimana bagian-bagiannya membenarkan dan menafsirkan bagian yang lain. hal ini sesuai dengan firman Allah SWT., “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Q.S. an Nisa : 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, menafsirkan al-Qur’an dengan sunnah yang sahih. Sunnah Nabi Saw. harus dipahami sebagai penjelas al-Qur’an dan yang menerangkan makna-makna yang dikandungnya, sehingga menafsirkan al-Qur’an pun dapat dilakukan dengannya. Imam Syafi’I rahimahullah pernah berkata, “Semua hukum yang ditetapkan oleh Rasulallah Saw merupakan hasil dari pemahaman beliau terhadap al Qur’an”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Keempat&lt;/span&gt;, memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi’in. pendapat ini didukung oleh kesimpulan bahwa para sahabat adalah “produk” tarbiyah Rasulallah Saw. maka jika kita mendengar suatu tafsir yang sohih dari sahabat, kita memberi perhatian padanya karena mereka menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat dan latar belakangnya. Di samping juga penguasaan mereka terhadap bahasa Arab, pemahaman mereka yang benar, fitrah yang lurus dan keyakinan mereka yang kuat, terutama jika mereka berijma atas suatu penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, mengambil kemutlakan bahasa Arab. Karena al-Qur’an turun dengan bahasa Arab, maka kita mesti menafsirkan lafadznya sesuai dengan asli yang dikandung kalimat Arab dan penggunaannya, dan yang sesuai dengan kaidah-kaidah serta retorika al-Qur’an yang penuh kemukjizatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, memperhatikan konteks redaksional ayat. Hal ini dengan memperhatikan konteks redaksi suatu ayat di tempatnya dalam suatu surah dan konteks redaksional suatu ayat. Kita harus mengaitkan ayat dengan konteks yang menyertainya dan tidak memutuskannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya untuk kemudian diseret dan dipaksa memberikan suatu makna atau mendukung  suatu ketetapan yang dikehendaki oleh sang mufassir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;, memperhatikan asbabun nuzul. Kesimpulan ini dikonklusikan dari keyakinan bahwa mengetahui sebab dan kondisi yang menyertai turunnya suatu nas akan membantu kita memahami teks ayat tersebut dengan baik dan mengetahui maksud yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedelapan&lt;/span&gt;, meletakan al-Qur’an sebagai referensi utama. Orang yang menafsirkan al-Qur’an, terlebih dahulu harus membersihkan dirinya dari keyakinan dan pemikiran-pemikirannya yang dahulu, untuk kemudian membuka dirinya dan bersiap menerima pemahaman-pemahaman dari al-Qur’an serta mengkuti petunjuk yang diberikannya. Ia harus memandangnya sebagai referensi primer, pegangan utama, pijakan dasar dan pemberi keputusan baginya ketika ia menghadapi suatu problematika. Al-Qur’an harus menjadi panutan bukan pengikut, pemberi keputusan bukan hukum yang dihukumi, dan pokok bukan cabang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-6777636832284132473?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/6777636832284132473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/thuruq-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6777636832284132473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6777636832284132473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/thuruq-tafsir.html' title='THURUQ TAFSIR'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8599134199158652521</id><published>2009-01-19T01:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:00:30.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>SUMBER TAFSIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-link:"Footnote Text Char";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar  {mso-style-name:"Footnote Text Char";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Footnote Text";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;}  /* Page Definitions */  @page  {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;  mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;  mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;  mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:292684577;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1074345962 -650982410 -1488843292 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-number-format:alpha-upper;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l0:level2  {mso-level-tab-stop:105.0pt;  mso-level-number-position:left;  margin-left:105.0pt;  text-indent:-51.0pt;} @list l1  {mso-list-id:703364729;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:195298902 280151896 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:roman-upper;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.5in;} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b&gt;SUMBER TAFSIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;M. Yasin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Dilihat dari sumbernya tafsir dibagi dalam dua kerangka, yaitu riwayah dan dirayah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Riwayah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tafsir riwayah biasa dikenal degan sebutan al-ma’tsur atau al-manqul. Kata ma’tsur sendiri merupakan bentuk isim maf’ul dari kata atsara yang secara etimologis berarti menyebutkan atau mengutip (naqala) dan memuliakan atau menghormati (akrama). Al-atsar juga bisa berarti sunnah, hadits, jejak, bekas, pengaruh dan kesan. Pada dasarnya kata-kata al-ma’tsur, an-naql, al-manqul, dan ar-riwayah mengacu pada satu makna yang sama, yaitu mengikuti atau mengalihkan sesuatu yang sudah ada dari orang lain atau masa lalu. &lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Dalam tradisi studi tafsir al-Qur’an klasik, riwayat merupakan sumber penting dalam memahami sebuah teks dalam al-Qur’an. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad Saw. merupakan penafsir pertama terhadap al-Qur’an. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Riwayah merupakan suatu proses penafsiran al-Qur’an yang menggunakan kumpulan data riwayat hadits dari Nabi Saw. dan para sahabat, sebagai variable penting dalam proses penafsiran al-Qur’an. Kerja riwayat sendiri adalah menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan para sahabat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Di sini para Ulama belum mendapat kesepakatan tentang batasan tafsir riwayah. Zarqani, misalnya, membatasi tafsir riwayah dengan mendefinisikan sebagai tafsir yang disuguhkan oleh ayat al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan para Sahabat dengan tidak memasukan tabi’in. pendapat ini berbeda dengan Adz Dzahabi yang memasukan tabi’in dalam kerangka tafsir riwayah. Sedang Ali Ashabuni nampak lebih fokus pada material tafsir bukan pada metodenya, yaitu dengan bersumber dari al-Qur’an, Sunnah dan perkataan sahabat. Karya tafsir paling monumental yang dilahirkan dari variable ini diantaranya adalah Tafsir Ath Thabary karya Thabari dan Tafsir Qur’an Azhim karya Ibn Katsir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Tafsir riwayah, khususnya tafsir al-quran dengan al-quran dan al-quran dengan sunnah Nabawiyyah oleh kebanyakan ulama tafsir disebut sebagai tafsir yang berkualitas dan paling tinggi kedudukannya. Ibn Taimiyah (661-728 H/1262-1327 M) dan Ibn Katsir (701-774 H/1301-1372 M) menyatakan sekiranya ada orang yang bertanya tentang cara penafsiran al-quran yang terbaik, jawaban yang paling tepat ialah menafsirkan al-quran dengan al-quran. Jika pada sebagian ayat al-quran ada yang mujmal (global), pada sebagian lainnya akan dijumpai uraian yang realtif lebih rinci. Ketika seseorang tidak menjumpai (keterangannya) dalam al-quran, hendaknya ia berpegang pada Sunnah karena Sunnah berfungsi sebagai pensyarah dan penjelas al-quran. &lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Meskipun tafsir riwayah memiliki kedudukan tersendiri di kalangan ulama tafsir. Namun ia tidak lepas dari kekurangan, paling tidak menyangkut hal-hal tertentu ketika dikaitkan dengan tafsir al-quran yang diwarisi dari sahabat dan tabi’in. kekurangan tersebut diantaranya,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;mencampuradukan antara yang shahih dan tidak shahih seperti yang dapat dikenali dari berbagai informasi yang sering dinisbatkan kepada para sahabat dan tabi’in tanpa memiliki rangkaian sanad yang valid sehingga membuka peluang bagi kemungkinan bercampur antara yang hak dan bathil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;terdapat kisah-kisah israiliyat yang penuh khurafat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;sebagian pengikut madzhab tertentu acapkali mengklaim pendapat mufassir tertentu, misalnya tafsir ibn Abbas, tanpa membuktikan kebenaran yang sesungguhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;sebagian orang zindiq kadang menyisipkan (kepercayaannya) melalui sahabat dan tabi’in sebagaimana halnya melalui Rasulallah Saw. dalam Hadits Nabawiyyah. Tindakan ini sengaja dilakukan untuk menghancurkan Islam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dirayah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Sedangkan sumber kedua adalah dirayah. Tafsir ini berkembang pesat pada abad ke 3 H, dimana peradaban Islam mulai melebar dan madzhab di kalangan Islam sudah mulai lahir. Teks al Qur’an ditafsirkan dalam kerangka corak kepentingan dan idiologi masing-masing madzhab, baik itu filsafat, teologi, sosiologi dan lain sebagainya. Dirayah sendiri adalah penjelasan-penjelasan yang berpegang pada akal, ijtihad dan kiyas.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama berbeda pendapat mengenai variable terakhir ini. Disisi lain menolak keras dan di lain pihak menerima dengan berbagai syarat yang diajukan. Namun terakhir ada juga yang menerima tanpa ada syarat sama sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ibid, hlm. 58&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ibid, hlm. 66&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dr. Muhammad Husain Adz Dzahabi, &lt;i&gt;Tafsir wa Mufassirun&lt;/i&gt;, Maktabah Wahbah, Mesir, 2003, hlm. 183&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8599134199158652521?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8599134199158652521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/sumber-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8599134199158652521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8599134199158652521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/sumber-tafsir.html' title='SUMBER TAFSIR'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-6225227167240947664</id><published>2009-01-19T00:54:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:03:43.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>PENGERTIAN TAFSIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-link:"Footnote Text Char";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar  {mso-style-name:"Footnote Text Char";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Footnote Text";} span.gen  {mso-style-name:gen;  mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;}  /* Page Definitions */  @page  {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;  mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;  mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;  mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/mia/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:120543097;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-512753524 -701991714 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-number-format:roman-upper;  mso-level-tab-stop:.75in;  mso-level-number-position:left;  margin-left:.75in;  text-indent:-.5in;} @list l1  {mso-list-id:292684577;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1074345962 -650982410 -1488843292 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:alpha-upper;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l1:level2  {mso-level-tab-stop:105.0pt;  mso-level-number-position:left;  margin-left:105.0pt;  text-indent:-51.0pt;} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b&gt;PENGERTIAN TAFSIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;M.Yasin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -9pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;tafsir secara bahasa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Secara etimologi, tafsir berarti menjelaskan (al-idhah), menerangkan (al-tibyan), menampakan (al-izhar), menyibak (al-kasyf) dan merinci (al-tafshil). Kata tafsir terambil dari kata al-fasr yang berarti al-ibanah dan al-kasyf yang keduanya berarti membuka (sesuatu) yang tertutup (kasyfu al-mughaththa). Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa kata tafsir terambil dari kata at-tafsirah, dan bukan dari kata al-fasr yang berarti “sebutan bagi sedikit air yang digunakan oleh seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dokter untuk mendiagnonis penyakit pasien”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Ar-Raghib al-Asfahani (502 H/1108 M) menyatakan bahwa kata al-fasr dan al-safr memiliki kedekatan makna dan pengertian karena keduanya memiliki kemiripan lafal. Hanya, lanjut ar-Raghib, kata al-fasr lazim digunakan untuk menjelaskan sebuah konsep atau makna yang memerlukan penalaran (al-ma’na al-ma’qul), sementara kata al-safr biasa digunakan untuk menampakan benda-benda fisik-materi yang bisa dikenali oleh mata kepala pancaindera. &lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tafsir secara istilah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Pengertian tafsir secara istilah menurut al-Kalby di dalam kitabnya at-Tashil “mensyarhakan al-quran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya ataupun dengan najuannya”. Sedangkan menurut az-Zarkasyi di dalam kitab Burhannya “menerangkan makna-makna al-quran beserta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya”. Menurut hakikatnya tafsir ialah “mensyarahkan lafadz yang sulit dipahami oleh pendengar dengan uraian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menjelaskan maksud. Yang demikian itu adakalanya dengan menyebut muradifnya atau yang mendekatinya atau ia mempunyai petunjuk kepadanya melalui beberapa petunjuk” seperti yang diungkapkan asy-Syikh Thahir al-Jazairi.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perbedaan tafsir dan takwil&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Kalimat tafsir di dalam al-quran hanya terdapat pada &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; al-Furqan ayat 33. &lt;span class="gen"&gt;Berbeda dengan tafsir, takwil terulang sebanyak 16 kali dalam 7 surat dan 15 ayat, antara lain, Ali imran :7, an Nisa : 58, al-A’raf :52, Yunus : 39, Yusuf : 6,21,36, 37, 44, 45, 100 dan 101, al-Isra : 35, al-Kahfi : 78 dan 83. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Sebagian ulama mengatakan bahwa tafsir dan takwil memiliki kesamaan arti seperti apa yang diyakini oleh Abu Ubaidah. Namun hamper semua ulama mengatakan bahwa tafsir dan takwil memiliki perbedaan. Ar-Raghib berpendirian bahwa makna tafsir lebih umum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daripada takwil, atau sebaliknya, makna takwil lebih khusus daripada tafsir. Istilah tafsir lebih banyak digunakan dalam konteks lafal dan makna mufradat, sedangkan penggunaan takwil lebih banyak dihubungkan dengan persoalan makna (isi) dari rangkaian pembicaraan secara keseluruhan (utuh). Menuryt al-Thabarsi (hidup pada awal abad enam Hijriah), tafsir adalah upaya menyibak pengertian dari lafal yang musykil, sedangkan takwil adalah upaya mengembalikan salah satu dari dua makna yang dimungkinkan kea rah pengertian yang lebi sesuai dengan makna lahir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Abu Thalib al-Tsa’labi: “Tafsir adalah menerangkan objek lafal (redaksi teks) dari sisi pandang hakiki atau majazi. Misalnya, menafsirkan kata ash-shirath dengan ath-thariq, yakni jalan dan kata ash-shayyib dengan kata al-mathar, yakni hujan. Takwil bermaksud menafsirkan substansi teks (bathin al-lafzh)”. Jadi, dapat dikatakan bahwa takwil lebih berorientasi pada pengabaran tentang hakikat sesuatu yang dikehendaki, sedangkan tafsir lebih mengedepankan berita-informasi tentang dalil (petunjuk) yang dikehendaki. Alasannya, lafallah yang menyibak tentang apa yang dikehendaki itu, sedangkan upaya menyibak itu sendiri dinamakan dalil (yang menunjukkan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa tafsir lebih banyak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat pendengaran atau periwayatan (riwayah), sedangkan takwil lebih banyak dikorelasi dengan hal-hal yang bersifat penalaran (dirayah). Abu Nashr al-Qusyairi menyatakan bahwa tafsir hanya terbatas pada ayat-ayat Alquran yang lebih mengandalkan sumber-sumber penglihatan dan pendengaran (al-ittiba’ wa al-sima’). Ini berbeda dengan takwil yang pemahamannya lebih banyak bergantung pada hal-hal yang bersifat ijtihad (al-isthimbat). Dengan kalimat lain, tafsir lebih banyak mengacu pada riwayah (pendengaran), sedangkan takwil pada dirayah (analisis).&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Drs. Ahmad Izzan. M.Ag, &lt;i&gt;Metodologi Ilmu tafsir&lt;/i&gt;, Tafakur, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 2007, hlm. 5&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Hasbi Ash Shidieqy, &lt;i&gt;Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran/tafsir&lt;/i&gt;, Bulan Bintang, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 1954, hlm. 5&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Drs. Ahmad Izzan. M.Ag, &lt;i&gt;Metodologi Ilmu tafsir&lt;/i&gt;, Tafakur, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 2007, hlm. 8&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-6225227167240947664?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/6225227167240947664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/pengertian-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6225227167240947664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/6225227167240947664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/pengertian-tafsir.html' title='PENGERTIAN TAFSIR'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-1279944509440603981</id><published>2009-01-06T20:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T20:03:20.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KONTAK KAMI'/><title type='text'>Kontak</title><content type='html'>Pertanyaan, kritik atau saran bisa langsung dikirim vi email&lt;br /&gt;thstaipi@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-1279944509440603981?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/1279944509440603981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/kontak.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1279944509440603981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1279944509440603981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2009/01/kontak.html' title='Kontak'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-1153704520098304867</id><published>2008-10-07T23:27:00.000-07:00</published><updated>2009-01-19T00:53:27.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KONTAK KAMI'/><title type='text'>kritik, saran dan pengiriman artikel TH STAIPI</title><content type='html'>kritik, saran dan pengiriman artikel ke : thstaipi@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-1153704520098304867?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/1153704520098304867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/kritik-saran-dan-pengiriman-artikel-th.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1153704520098304867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/1153704520098304867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/kritik-saran-dan-pengiriman-artikel-th.html' title='kritik, saran dan pengiriman artikel TH STAIPI'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-989609499182821468</id><published>2008-10-06T21:03:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T21:06:44.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>Sejarah Tafsir di Indonesia (Koran Republika)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman; font-weight: bold;"&gt;Sejarah Tafsir di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(Kajian Kolom Tafsir dalam Koran Republika)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Oleh : Zulkarnain al-Maidaniy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Al-Quran tidak akan mengikuti hipotesis-hipotesis manusia, tetapi hasil penelitian ilmiah manusia harus mengikuti alqur’an. Jika suatu penilaian ilmiah tertentu selaras dengan penjelasan al-Qur’an, hal ini akan merupakan kebanggaan dan kenikmatan yang besar bagi para peneliti …. Tetapi, jika hasil penelitian mereka tidak sesuai dengan al-Qur’an, maka mereka harus melanjutkan penelitiannya”. (Ahmad Khan, dikemukakan oleh Parvez dalam karyanya Ma’arif al-Qur’an)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pengantar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; Studi terhadap al-Qur’an dan tafsir berikut metodologinya sebenarnya selalu mengalami perkembangan yang cukup signifikan, seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia, sejak turunnya al-Qur’an hingga sekarang. Fenomena tersebut merupakan konsekuensi logis dari adanya keinginan umat Islam untuk selalu mendialogkan antara al-Qur’an sebagai teks (nash) yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan yang dihadapi manusia sebagai konteks (waqa’i) yang tak terbatas. Hal itu juga merupakan salah satu implikasi dari pandangan teologis umat Islam bahwa al-Qur’an itu shalihin li kulli zaman wa makan (al-Qur’an itu selalu cocok untuk setiap waktu dan tempat). Karenanya, sebagaimana dikatakan Muhammad Syahrur, al-Qur’an harus selalu ditafsirkan sesuai dengan tuntutan era kontemporer yang dihadapi umat manusia. Kebutuhan manusia akan solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi oleh manusia mengharuskan mereka untuk mengorek lebih dalam jawaban yang disediakan oleh al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; Tak terkecuali dalam konteks ranah bumi pertiwi yang merupakan mayoritas beragama Islam. Bersamaan dengan proses awal masuknya Islam di Nusantara, kitab Suci al-Qur’an diperkenalkan para juru dakwah itu kepada penduduk pribumi di Nusantara. Pengenalan awal terhadap al-Qur’an itu, bagi penyebar Islam tentu suatu hal yang penting, karena al-Qur’an adalah Kitab Suci agama Islam yang diimani sebagai pedoman hidup bagi orang yang telah memeluk Islam. Adalah tidak bisa ditolak, keharusan memahami isi al-Qur’an bila ingin menjadi muslim yang baik. Kenyataan ini dikuatkan dengan munculnya kitab-kitab tafsir yang merupakan hasil karya anak-anak negeri, baik pada masa klasik seperti tafsir Tarjuman Al-Qur’an yang ditulis oleh ‘Abdul Ra’uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz, maupun akhir abad 20 seperti tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Furqon oleh A. Hassan sampai tafsir al-Mishbah yang ditulis oleh Quraish Shihab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Terseraknya berbagai hasil penelitian yang mengungkapkan literatur di Nusantara seputar kajian al-Qur’an, menunjukkan bahwa sejak semula umat Islam di Indonesia mempunyai perhatian besar terhadap al-Qur’an; mulai hal pengajaran tata cara membaca al-Qur’an yang baik sesuai dengan ilmu tajwid, hingga kajian-kajian mendalam mengenai kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an menempati kedudukan penting di dalam sejarah pergumulan awal Muslim Indonesia. Di pelbagai pondok pesantren, madrasah, dan sekolah, telah memposisikan al-Qur’an menjadi salah satu materi penting – disamping fiqh, bahasa, dan teologi (kalam)- dengan ilmu-ilmu yang terkait, seperti ulumul qur’an dan ulumut tafsir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Di Era sekarang, kajian seputar al-Qur’an yang diusung oleh anak-anak negeri dengan pendekatan yang berbeda satu sama lain terus dilakukan, kenyataan ini semakin memperkaya khazanah keilmuan di bumi pertiwi ini, baik yang dikemas melalui penerbitan buku, buletin ataupun kolom-kolom yang khusus disediakan oleh surat kabar tertentu yang berbicara seputar kajian al-Qur’an dan tafsirnya. Salah satu diantaranya adalah surat kabar harian Republika yang menyertakan suplemen tambahan dengan judul Tabloid Republika Dialog Jum’at yang terbit tiap hari jum’at. Dalam tabloid tersebut terdapat kolom “Iqra” yang khusus mengupas al-Qur’an dengan pendekatan tafsirnya. Terlepas dari apakah itu ditujukan untuk menaikkan oplah dikarenakan pangsa pasar muslim yang cukup menjanjikan ataukah murni mencerdaskan masyarakat, yang jelas ini merupakan hasil karya anak bangsa yang berhak untuk diapresiasikan dan memperkaya literatur kajian Sejarah Tafsir di Indonesia.  Makalah ini hadir mencoba untuk meneliti kolom “Iqra” yang dihadirkan dalam Tabloid Republika Dialog Jum’at tersebut dengan memakai pisau analisis disiplin ilmu tafsir melalui penelitian seputar unsur metode yang dipergunakan, unsur sumber serta pendekatan yang mendominasi setiap pembahasan dan juga relasi/ aplikasi metodologi penafsirannya. Pada kesempatan ini, penulis membatasi kajian penelitian ini cukup dengan 8 edisi saja, sesuai dengan bahan yang penulis dapatkan, yaitu edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 23 Februari 2006/ 5 Shafar 1428 H, edisi 9 Maret 2006/ 19 shafar 1428 H, edisi 16 Maret 2007/ 26 Shafar 1428 H, edisi 23 Maret 2007/ 4 Rabiul Awal 1428 H. Sekalipun tidak berurutan, mudah-mudahan cukup mewakili dari tulisan-tulisan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Analisis Kajian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; Dalam Tabloid Republika Dialog Jum’at edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H secara bersambung menurunkan tulisan kajian tentang Jejak-jejak Bangsa Terdahulu. Pada edisi 3 November 2006 mengisahkan tentang Bencana yang menimpa Fir’aun dan kaumnya dikarenakan ingkar kepada Allah dan mendustakan kenabian Musa As. Tanpa menentukan ayat yang menjadi fakus kajian, tulisan dalam edisi tersebut menceritakan secara naratif kisah kehancuran Fir’aun dengan mengutip Qs. Al-A’raf (7): 132, kemudian masih pada surat yang sama dalam ayat 130 untuk lebih menguatkan argumentasi, juga dikutip Qs. Az-zukhruf (43): 51 dan mengambil dari kitab kaum Nasrani, Perjanjian Lama, tepatnya dalam Keluaran, 7:21. Ditinjau dari metode yang dipergunakan, tulisan pada edisi ini lebih pada metode ijmali. Ini terlihat dari penuturan yang cukup singkat dan global, juga hanya menampilkan bagian terjemah, tanpa mementingkan aspek asbabun nuzul, kemudian diakhiri dengan perumusan pokok-pokok kandungan dari ayat-ayat yang dikaji. Pendekatan secara tekstual sangat kentara sekali dengan mempergunakan sistematika penyajian secara tematik (maudlu’i). Jika diteliti lebih mendalam, teori-teori standar yang sudah digariskan oleh para ulama tafsir tidak menjadi acuan pokok, baik tentang munasabah bainal ayat awis surah, aspek asbabun nuzul, juga kajian riwayah. Sumber primer tulisan tersebut adalah hasil dari saduran tulisan Harun Yahya pada www.harunyahya.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada edisi 6 Oktober 2006 yang mengisahkan perjalanan Ashabul Kahfi tatkala melarikan diri dari kejaran Raja Kafir yang zhalim, dengan menurunkan tulisan dengan judul ‘Apakah para penghuni gua ada di Tarsus?’. Hampir sama dengan analisis untuk tulisan edisi 3 November di atas, hanya disini rujukan sumber data ada pada pendapat ahli-ahli tafsir seperti ath-Thabari, Fakhrudin ar-Razi, juga dalam tafsir Baidlawi dan an-Nasafi ketika meyakinkan argumentasi bahwa gua tempat Ashabul Kahfi pernah hidup terletak di sebuah gunung yang dikenal sebagai Encilus atau Bencilus, di Barat Laut Tarsus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada edisi 1 Desember 2006 dengan menurunkan judul ‘Kota yang dijungkirbalikkan (2), Ada apa dengan struktur Danau Luth’, tanpa menampilkan satu pun ayat yang menjadi fokus kajian, tulisan tersebut adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang belum terlacak oleh saya (Peneliti, penj). Tulisan pada edisi ini merupakan hasil olahan dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan tentang kondisi danau Luth yang kisahnya dapat kita temukan dalam al-Qur’an dengan mengacu dari sumber www.harunyahya.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sedangkan pada edisi 15 Desember 2006 yang menutup rangkaian kisah ‘Jejak-jejak Bangsa Terdahulu’ dengan judul ‘Pelajaran bagi Kita’ menampilkan Qs. Ar-Ruum (30): 9 sebagai refleksi kajian al-Qur’an dalam menyikapi fenomena masyarakat sekarang yang tidak jauh berbeda dengan umat terdahulu. Dengan model gaya bahasa yang menempatkan bahasa sebagai medium komunikasi dengan karakter kebersahajaan menjadikan makna moral ataupun sosial yang terkandung dalam ayat lebih mudah untuk dipahami seperti terlihat dalam tulisan “semua kaum yang telah kita pelajari sebelumnya telah dibinasakan melalui berbagai bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir, dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum yang sesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti kaum-kaum terdahulu juga akan dihukum dengan cara yang sama”. Sama dengan yang di atas, aplikasi metodologi penafsiran tidak terlalu menonjol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kemudian pada edisi 23 Februari 2007, 9 Maret 2007, 16 Maret 2007 dan 23 Maret 2007, Dialog Jum’at berturut-turut menampilkan tulisan tentang keajaiban al-Qur’an yang mengupas ayat al-Qur’an dengan metode ijmali tetapi melalui pendekatan tafsir ilmi (ilmiyah), yaitu suatu pemahaman atas teks al-Qur’an dengan menggunakan data hasil observasi ilmiah sebagai variabel penjelas. Usaha menjelaskan ayat al-Qur’an dengan metode ilmiah ini bisa dipahami, mengingat dalam al-Qur’an sendiri terdapat banyak isyarat ilmiah. Ini dapat kita lihat tatkala menjelaskan tafsir Qs. An-Najm (53): 49 pada edisi 23 Februari 2007 dengan judul ‘Bintang Sirius (Syi’ra), “Kenyataan bahwa kata Arab Syi’raa, yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di surat an-Najm ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakberaturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda….Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, yaitu melalui ayat ke-9 dalam surat yang sama ”…maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada edisi 9 Maret 2007 dengan judul ‘Air Susu Ibu’, tulisan pada edisi kali ini mengutip Qs. Lukman (31): 14 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. Pada alinea ke-6 ditulis, ‘salah satu hal yang menyebabkan ASI sangat dibutuhkan bagi pekembangan bayi yang baru lahir adalah kandungan minyak omega-3 asam linoleat alfa. Selain sebagai zat penting bagi otak dan retina manusia, minyak tersebut juga sangat penting bagi bayi yang baru lahir’. Sedangkan pada edisi 16 Maret 2007 dengan judul ‘Kekuatan Petir’ lebih banyak mengeksplorasi temuan ilmiah seputar kekuatan dan kedahsyatan petir dari pada pengelaborasian kajian tafsir dalam arti aplikasi metode penafsiran. Kemudian pada edisi 23 Maret 2007 dengan judul ‘Lebah Madu’ menampilkan kajian Qs. An-Nahl (16) : 68-69, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…”. Tulisan edisi kali ini juga tidak berbeda jauh dengan tulisan pada edisi sebelumnya, pemaparan temuan ilmiah seputar rahasia kehidupan lebah serta manfaat madu mendominasi tulisan ini dari pada kajian metodologi tafsir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Penutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Secara global, dari hasil penelitian terhadap sebanyak 8 edisi yang dimuat dalam kolom ‘Iqra’ pada Tabloid Republika Dialog Jum’at masing-masing edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 23 Februari 2006/ 5 Shafar 1428 H, edisi 9 Maret 2006/ 19 shafar 1428 H, edisi 16 Maret 2007/ 26 Shafar 1428 H, edisi 23 Maret 2007/ 4 Rabiul Awal 1428 H dapat disimpulkan bahwa metode yang dipergunakan adalah metode ijmali (global) yang hampir secara keseluruhan menjadikan sumber dirayah sebagai rujukannya. Pada metode tafsir dengan menempatkan penemuan sains ilmiah sebagai variable utama untuk  menjelaskan pengertian dari suatu ayat. Model tafsir macam ini setidaknya memuat dua hal. Pertama, menjadikan teks al-Qur’an sebagai alat justifikasi bahwa al-Qur’an nyata telah memberi isyarat mengenai ilmu sains, teknologi dan seterusnya. Kedua, penemuan sains ilmiah dijadikan variabel penguat bahwa al-Qur’an memanglah ilmiah. Dalam konteks ini muncul problem krusial: bagaimana bila teori ilmiah yang dijadikan penjelas, tadinya diyakini final dan berkesesuaian dengan al-Qur’an, ternyata mengalami anomali dan tidak valid lagi. Sebab, penemuan ilmiah tidak saja terus berkembang, tapi juga berubah. Posisi teks al-Qur’an pun tentu akan menjadi kehilangan relevansinya. Namun, betapapun harus dicatat bahwa al-Qur’an bukanlah buku sains ataupun teknik. Oleh karena itu, menafsirkan al-Qur’an bukanlah untuk memenuhi kebutuhan actual dan teknik, melainkan berupaya berdialog dengannya untuk melihat bagaimana pandangan-pandangannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kajian tafsir yang dimuat pada Tabloid Republika Dialog Jum’at pada kolom ‘Iqra’ akan menjadi lebih berbobot apabila dilengkapi dengan kajian dan aplikasi metodologi penafsiran, sehingga para pembaca akan mendapatkan nilai plus dari tulisan tersebut. Selain hasil-hasil penemuan ilmiah yang berhasil menguak kebenaran al-Qur’an yang diturunkan jauh sebelum manusia mengenal metode observasi lapangan, juga materi-materi Ulum al-Qur’an dan Ulum al-Tafsir yang menjadi pondasi bangunan sebuah tafsir dari ayat-ayat Ilahi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Wallahu A’lam Bishowab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Referensi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. Al-Qur’an Buku yang menyesatkan dan buku yang mencerahkan, editor : May Rachmawatie dan Yudhie R Haryono, PT. Gugus Press Bekasi 2002 M.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. Khazanah Tafsir Indonesia, Islah Gusmian, Teraju Jakarta 2003 M.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;3. Studi Al-Qur’an Kontemporer, editor : Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin, PT. Tiara Wacana Yogyakarta 2002 M.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-989609499182821468?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/989609499182821468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/sejarah-tafsir-di-indonesia-koran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/989609499182821468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/989609499182821468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/sejarah-tafsir-di-indonesia-koran.html' title='Sejarah Tafsir di Indonesia (Koran Republika)'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8096255381544689165</id><published>2008-10-06T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T21:01:22.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU TAFSIR'/><title type='text'>Amtsal dalam al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Amtsal dalam al-Qur'an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kajian Ulum at-Tafsir)&lt;br /&gt;Oleh : Zulkarnain al-Maidaniy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defenisi Amtsal&lt;br /&gt; Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal. Kata matsal, mitsl dan matsil adalah sama dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafaz maupun maknanya.&lt;br /&gt; Dalam sastra, matsal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapkan. Contohnya, رب رمية من غير رام (betapa banyak lemparan panah yang mengena tanpa sengaja). Matsal ini dimaksudkan kepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar ini, matsal harus mempunyai maurid (sumber) yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan.&lt;br /&gt; Kata matsal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan” dan “kisah yang menakjubkan”. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata “matsal” dalam sejumlah besar ayat alqur’an. Seperti dalam Qs. Muhammad (47): 15 “{apakah) matsal surga yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya…” maksudnya, kisah dan sifat surga yang sangat mengagumkan.&lt;br /&gt; Dalam al-Kasyaf, Zamakhsari berkata bahwa matsal menurut asal perkataan mereka berarti al-mitsl dan an-nazir (yang serupa, yang sebanding). Kemudian setiap perkataan yang berlaku, populer, yang menyerupakan sesuatu (orang, keadaan dan sebagainya) dengan “maurid” (atau apa yang terkandung dalam) perkataan itu disebut matsal. Mereka tidak menjadikan sebagai matsal dan tidak memandang pantas untuk dijadikan matsal yang layak diterima dan dipopulerkan kecuali perkataan yang mengandung keanehan dari berbagai segi. Dan “matsal” dipinjam (dipakai secara pinjaman) untuk menunjukkan keadaan, sifat atau kisah jika ketiganya dianggap penting dan mempunyai keanehan.&lt;br /&gt; Masih terdapat makna lain, yakni makna keempat, dari matsal menurut ulama Bayan. Menurut mereka, matsal adalah majaz murakkab yang ‘alaqah-nya musyabahah. Jika penggunaannya telah populer. Majaz ini pada asalnya adalah isti’arah tamtsiliyah, seperti kata-kata yang diucapkan terhadap orang yang ragu-ragu dalam melakukan urusan: مالى أراك تقدم رجلا وتؤخر أخرى (mengapa aku lihat engkau melangkahkan satu kaki dan mengundurkan kaki yang lain?).&lt;br /&gt; Dikatakan pula, defenisi matsal ialah menonjolkan sesuatu makna (yang abstrak) dalam bentuk yang inderawi agar menjadi indah dan menarik. Dengan pengertian ini maka matsal tidak disyaratkan harus mempunyai maurid sebagaimana tidak disyaratkan pula harus berupa majaz murakkab.&lt;br /&gt; Apabila memperhatikan matsal-matsal alqur’an yang disebutkan para pengarang, kita dapatkan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan sesuatu hal dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’arah maupun dengan tasybih sarih (penyerupaan yang jelas); atau ayat-ayat yang menunjukkan makna yang menarik dengan redaksi ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu yang menyerupai dengan apa yang berkenaan dengan ayat itu. Sebab, Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang mendahului. &lt;br /&gt; Ibnu Qayyim mendefinisikan amtsal Qur’an dengan “menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan yang inderawi (konkrit, mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Amsal dalam Qur’an.&lt;br /&gt;Amsal di dalam alqur’an ada tiga macam; amsal musarrahah, amsal kaminah dan amsal mursalah.&lt;br /&gt;1). Amsal musarrahah, ialah yang di dalamnya dijelaskan dengan lafaz masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amsal seperti ini banyak ditemukan dalam qur’an,  beberapa di antaranya adalah;&lt;br /&gt;Firman Allah mengenai orang munafik:&lt;br /&gt;Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta. maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat…” sampai dengan “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.(al-Baqarah (2): 17-20). Dalam ayat ini Allah membuat dua perumpamaan bagi orang munafik, yaitu api (unsur cahaya) dan air (materi kehidupan) dan wahyu yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan dan fasilitas orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam. Namun di sisi lain Islam tidak memberikan pengaruh “nur”-nya terhadap hati mereka karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu, “Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka”, dan membiarkan unsur “membakar” yang ada padanya. Sedangkan masal mengenai air, Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari jemari untuk menyumbat telinga serta memejamkan mata karena takut petir menimpanya. Ini mengingat bahwa Qur’an dengan segala peringatan, perintah, larangan dan khitabnya bagi mereka tak ubahnya dengan petir yang turun sambar-menyambar.&lt;br /&gt;2). Amsal Kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamtsil (permisalan) tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohnya adalah:&lt;br /&gt;A. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan: خير الأمور الوسط (sebaik-baik urusan adalah pertengahannya), yaitu firman Allah mengenai nafkah:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Qs. Furqan (25): 67).&lt;br /&gt;B. Ayat yang senada dengan perkataan: ليس الخبر كالمعاينة ( Kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri).&lt;br /&gt;“Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. (Qs. al-Baqarah (2): 260)&lt;br /&gt;C. Ayat yang senada dengan perkataan: كما تدين تدان ( sebagaimana kamu telah menghutangkan, maka kamu akan dibayar).&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu” (Qs. an-Nisa (4): 123).&lt;br /&gt;D. Ayat yang senada dengan perkataan: لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين (Orang mukmin tidak akan terperosok dua kali dalam lubang yang sama).&lt;br /&gt;“Berkata Ya'qub: "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?"(Qs. Yusuf (12): 64).&lt;br /&gt;3). Amsal Mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Contohnya:&lt;br /&gt;a). “Sekarang jelaslah kebenaran itu” (Qs. Yusuf (12): 51).&lt;br /&gt;b). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (Qs. al-Baqarah (2): 216).&lt;br /&gt;c). “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” (Qs. Shaffat (37): 61).&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat yang mereka namakan amtsal mursalah ini, apa atau bagaimana hukum mempergunakannya sebagai matsal?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah-faedah Amtsal&lt;br /&gt;1). Menonjolkan sesuatu ma’qul (yang hanya bisa dijangkau akal, abstrak) dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan indera manusia, sehingga akal mudah menerimanya; sebab pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk inderawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya Allah membuat perumpamaan bagi keadaan orang yang menafkahkan harta dengan riya’ dimana ia tidak akan mendapatkan pahala sedikit pun dari perbuatannya itu,&lt;br /&gt;“Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan” (Qs. al-Baqarah (2): 264).&lt;br /&gt;2). Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tampak seakan-akan sesuatu yang tampak. Misalnya:&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila” (Qs. al-Baqarah (2): 275).3). Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amsal kaminah dan amsal mursalah dalam ayat-ayat diatas.&lt;br /&gt;4). Mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal, jika ia sesuatu yang disenangi jiwa.&lt;br /&gt;5). Menjauhkan (tanfir, kebalikan no.4), jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Seperti dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (Qs. al-Hujurat (49): 12).&lt;br /&gt;6). Untuk memuji orang yang diberi matsal.&lt;br /&gt;7). Untuk menggambarkan (dengan matsal itu) sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya matsal tentang keadaan orang yang dikarunia Kitabullah tetapi ia tersesat jalan hingga tidak mengamalkannya (Qs. al-A’raf (7): 175-176).&lt;br /&gt;8). Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak menyebut amtsal di dalam alqur’an untuk peringatan dan pelajaran. Ia berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran” (Qs. az-Zumar (39): 27).&lt;br /&gt;“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Qs. al-Ankabut (29): 43). &lt;br /&gt;Contoh Matsal dalam alqur’an.&lt;br /&gt; Dalam alqur’an surat al-baqarah (2) ayat 26-27 disebutkan,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” &lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah Swt menjadikan nyamuk sebagai objek untuk bahan pemikiran bagi manusia. Bagi manusia yang tertanam iman dalam hatinya, sekalipun nyamuk merupakan binatang yang dianggap sepele, tetapi dapat menghantarkan akan kekuasaan Allah yang tidak akan mungkin dapat ditandingi oleh manusia yang serba terbatas. Allah menantang kepada manusia untuk dapat menandingi hasil cipta-Nya sekalipun itu hanya seekor nyamuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8096255381544689165?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8096255381544689165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/amtsal-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8096255381544689165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8096255381544689165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/amtsal-dalam-al-quran.html' title='Amtsal dalam al-Qur&apos;an'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-8977208190356213036</id><published>2008-10-06T20:57:00.000-07:00</published><updated>2009-01-28T02:45:24.985-08:00</updated><title type='text'>Imam Muhammad Nawawi al-Bantani</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Muhammad Nawawi al-Bantani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kajian Tokoh di Indonesia)&lt;br /&gt;Oleh : Zulkarnain al-Maidaniy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan.&lt;br /&gt; Sejak abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri di Asia Timur Jauh, Asia Tenggara dan Asia Barat. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatera, Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai Cina melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu Cina dibawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14) dan Dinasti Abbasiyah (750-870).&lt;br /&gt; Menurut J.C. van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di Barat Laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah kapur barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa Dinasti Tang (abad 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian Barat dan Kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia bagian Timur serta Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Akan tetapi menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu yang beragama Islam.&lt;br /&gt; Baru pada zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini masuk Islam, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang muslim itu. Menjelang abad ke-13 M, masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak dan Palembang di Sumatera. Di Jawa, makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit.&lt;br /&gt; Berdasarkan sumber sejarah, seperti hikayat, tambo, babad dan cerita tradisional, yang berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara bukan hanya pedagang dan guru sufi yang datang dari luar Asia Tenggara, tetapi juga dari negeri di lingkungan Asia Tenggara sendiri. Misalnya, Hikayat Pattani menceritakan kedatangan Syaikh Sa’d dari Pasai yang berhasil mengislamkan Raja Pattani dan putera-puterinya. Dalam Babad Jawa disebutkan, yang melakukan penyebaran Islam adalah wali yang secara kelompok terkenal dengan sebutan “Wali Songo”. Sebagian Wali Songo berasal dari pulau Jawa. Dalam lontara Goa dan Tallo disebutkan bahwa Dato ri Bandang, Dato ri Tiro dan Dato ri Pattimang adalah mubaligh yang diperkirakan berasal dari Minangkabau. Dalam Hikayat Kutai disebutkan kedatangan dan penyebaran agama Islam dilakukan oleh Datuk di Bandang (Dato ri Bandang) dan Datuk Tunggang Parangan yang sebelumnya menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt; Pada periode-periode selanjutnya, sebagaimana yang diketahui bahwa sebelum kedatangan Islam ke Nusantara, kebanyakan penduduk pribumi menganut agama Hindu, Budha dan tidak sedikit animisme yang banyak memasukkan unsur-unsur mistis dalam prilaku keagamaan ritual keseharian. Hal ini tentunya memaksa para mubaligh untuk bisa menyesuaikan dengan kecenderungan penduduk pada waktu itu agar dakwah Islam bisa lebih diterima. Dalam Islam, aspek ajaran yang banyak bersinggungan dengan unsur mistis adalah tasawuf. Unsur tasawuf dapat dilihat misalnya dari tulisan pada beberapa nisan kubur. Konsep Insan Kamil, misalnya, terdapat pada nisan kubur raja Melayu dan Indonesia yang disebut Batu Aceh. Ayat alqur’an dan beberapa syair sufi yang terdapat pada beberapa nisan itu pada dasarnya mempunyai tema umum, yaitu menekankan kenyataan bahwa “Hanya Allah-lah yang ada dan Ia menentukan manusia.” Terdapat enam nisan kubur di Semenanjung Malaka yang memuat syair sufi, yaitu makam Nibong di Johor, di Pagoh, di Muar dan yang lainnya terdapat di Sayong Pinang. &lt;br /&gt; Meskipun telah terdapat pengaruh unsur tasawuf antara abad ke-13 dan abad ke-15, namun baru pada abad ke-16 dan ke-17 ajaran tasawuf berkembang secara jelas di Asia Tenggara. Hal ini dapat diketahui dari hasil karya ahli tasawuf pada abad itu. Di Jawa misalnya, ada kitab kitab primbon abad ke-16 dan juga kitab Wejangan She Bari dari abad ke-16. Syaikh Yusuf, sekembalinya dari Timur Tengah pada abad ke-17, menulis banyak kitab tasawuf. Di Aceh pada sekitar abad ke-17 muncul pula ahli tasawuf, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri dan Abdur Rauf  Singkel. &lt;br /&gt; Demikianlah, ahli tasawuf mempunyai peranan penting dalam proses penyebaran dan pemantapan Islam di Asia Tenggara. Tasawuf. Para ulama yang pernah bermukim di Makkah, yang lazim disebut “al-Jawi”, banyak  berguru pada ulama besar di Timur Tengah. Sekembalinya ke tanah air di Asia Tenggara, mereka berperan besar dalam upaya penyebaran intelektual keislaman. Bahkan ada yang melakukan pembaruan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda.&lt;br /&gt; Diantar para ulama yang punya peran besar dalam penyebaran intelektual dan pembaruan yang signifikan, tercatatlah nama ulama terkenal dari Banten, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani atau disebut juga Imam Nawawi Tanara. Sekalipun tidak lama bermukim di Nusantara dan waktunya banyak dihabiskan di Makkah, tetapi pengaruh intelektual yang ditimbulkan, baik dari para ulama yang belajar kepada beliau maupun dari karangan-karangan beliau yang banyak dipelajari dan dijadikan rujukan dalam pelaksanaan keagamaan umat Islam di Indonesia menjadikan tokoh ini termasuk dalam jajaran ulama yang berperan aktif dalam menyebarkan syariat Islam di bumi Nusantara ini.&lt;br /&gt; Makalah sederhana ini mencoba untuk menghadirkan sosok tersebut berikut peran yang disumbangkan dalam upaya penyebaran dan pembinaan masyarakat Indonesia di atas landasan syariat Islam menuju Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang Imam Muhammad Nawawi Tanara al-Bantani.&lt;br /&gt;Nama beliau adalah Nawawi bin Umar bin Arabi. Ia disebut juga Nawawi al-Bantani. Dikalangan keluarganya, Syaikh Nawawi al-Jawi dikenal dengan sebutan Abu Abdul Mu’ti. Ayahnya bernama KH. Umar bin Arabi, seorang ulama dan penghulu di Tanara, Banten. Sedangkan ibunya, Jubaidah, penduduk asli Tanara. Beliau lahir di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, keresidenan Banten, pada 1230 H/ 1813 M. wafat pada usia 84 tahun, yaitu pada 25 Syawal 1314 H/ 1879 M, di tempat kediamannya yang terakhir, kampung Syi’ib Ali, Makkah. Jenazahnya di makamkan di pekuburan Ma’la, Makkah, berdekatan dengan kuburan Ibnu Hajar dan Siti Asma binti Abu Bakar as-Shidiq. Beliau wafat pada saat sedang menyusun sebuah tulisan yang menguraikan dan menjelaskan Minhaj ath-Thalibin-nya Imam Yahya bin Syaraf bin Mura bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hujam an-Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah keturunan.&lt;br /&gt;Silsilah keturunan Imam Nawawi dari garis ayah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Imam Nawawi → Kyai Umar → Kyai Arabi → Kyai Ali → Ki Jamad → Ki Janta → Ki Masbugil → Ki Masqun → Ki Masnun → Ki Maswi → Ki Tajul Arusy Tanara → Maulana Hasanudin Banten → Maulana Syarif Hidayatullah Cirebon → Raja Amatudin Abdullah → Ali Nuruddin → Maulana Jamaludin Akbar Husain → Imam sayyid Ahmad Syah Jalal → Abdullah Adzmah Khan → Amir Abdullah Malik → Sayydi Alwi → Sayyid Muhammad Shahib Mirbath → Sayyid Ali Khali’ Qasim → Sayyid Alwi → Imam Ubaidillah → Imam Ahmad Muhajir Ilallahi → Imam Isa an-Naqib → Imam Muhammad Naqib → Imam Ali Aridhi → Imam Ja’far as-Shadiq → Imam Muhammad al-baqir → Imam Ali Zainal Abidin → Sayyiduna Husain → Sayyidatuna Fatimah Zahra → Muhammad Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Silsilah keturunan Imam Nawawi dari garis ibu adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;Imam Nawawi → Nyi Zubaidah → Muhammad Singaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pendidikan dan Pengajaran.&lt;br /&gt;Sejak kecil Syaikh Nawawi telah mendapat pendidikan agama dari orang tuanya. Mata pelajaran yang diterimanya antara lain bahasa Arab,  fikih dan ilmu tafsir. Selain itu ia belajar pada Kyai Sahal di daerah Banten dan Kyai Yusuf di Purwakarta. Pada usia 15 tahun ia pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah dan bermukim di sana selama 3 tahun. Di tempat ini beliau belajar pada banyak ulama besar yang bermukim di sana. Setelah itu beliau belajar di Madinah untuk lebih menambah wawasan keislaman dalam bidang disiplin ilmu yang lain. Semangat tinggi menyebabkan beliau berkelana mencari dan mendalami berbagai ilmu pengetahuan ke negeri-negeri lain, seperti Mesir dan Syam (Syiria). Di tempat ini beliau belajar kepada ulama-ulama besar.&lt;br /&gt;Setelah belajar dan berkelana mencari dan mendalami berbagai ilmu pengetahuan  di empat negeri tersebut, beliau pulang ke tanah air, yaitu pada tahun 1248 H/ 1831 M, untuk kembali belajar kepada salah seorang ulama besar di Karawang, Jawa Barat. Setelah perjalanan pencarian ilmu di Karawang, beliau kembali ke daerah asalnya, Tanara, untuk mulai mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada umat yang sangat mengharapkan dan mendambakan ilmunya. Di tempat kelahirannya tersebut, beliau membina pesantren peninggalan orang tuanya. Akan tetapi, karena kondisi tanah air ketika itu masih berada di bawah jajahan Belanda, dan setiap gerak-gerik para ulama diawasi, termasuk kegiatan Imam Nawawi, beliau kembali ke Makkah untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada para Mahasiswa yang berdatangan ke sana dari berbagai negara. Sejak keberangkatannya yang kedua kalinya ini, Syaikh Nawawi tidak pernah kembali lagi ke Indonesia. Menurut catatan sejarah, di Mekkah ia kembali berupaya mendalami ilmu-ilmu agama dari para gurunya, seperti Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Ghani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni dan Syaikh Abdul Hamid Dagastani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para murid-murid beliau.&lt;br /&gt;Dengan bekal pengetahuan agama yang telah ditekuninya selama lebih kurang 30 tahun, Syaikh Nawawi setiap hari mengajar di Masjidil Haram. Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru negeri, termasuk Indonesia. Di antara para ulama besar Indonesia yang menjadi muridnya, antara lain, adalah:&lt;br /&gt;1. K.H. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.&lt;br /&gt;2. K.H. Khalil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.&lt;br /&gt;3. K.H. Asy’ari, Bawaian, yang kemudian diambil menantu oleh beliau, dinikahkan dengan puterinya yang bernama Nyi Maryam binti Syaikh Imam Nawawi.&lt;br /&gt;4. K.H. Nahjun, kampung Gunung Mauk, Tanggerang, yang juga dijadikan mantunya (cucu), dinikahkan dengan Nyi Salmah binti Ruqayyah binti Syaikh Imam Nawawi. K.H. Nahjun juga bertindak selaku penulis karangan Imam Nawawi, terutama ketika beliau menulis Qathr al-Ghaits.&lt;br /&gt;5. K.H. Asnawi, Caringin, Labuan, kabupaten Pandeglang, Banten.&lt;br /&gt;6. K.H. Ilyas, kampung Teras, Tanjung, kecamatan Karagilan, kabupaten Serang, Banten.&lt;br /&gt;7. K.H. Abdul Ghaffar, kampung Lampung, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Banten.&lt;br /&gt;8. K.H. Tubagus Bakri, Sempur, Purwakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya beliau.&lt;br /&gt;Sebagaimana ulama-ulama besar lainnya, Imam Nawawi– disamping mengajar dan mendidik para siswa yang belajar kepadanya- seluruh waktunya dipergunakan untuk menulis. Buah karyanya sebanyak 115 kitab, atau 99 kitab, menurut riwayat lain.&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan Imam Nawawi antara lain:&lt;br /&gt;1. As-Simar al-Yani’at: ulasan atas Riyadh al-Badi’at-nya Syaikh Muhammad Hasbullah. Kitab ini membahas masalah fikih.&lt;br /&gt;2. Tanqih al-Qaul: ulasan atas Lubab al-Hadits-nya Imam Jalaludin Sayuthi. Kitab ini membahas empat puluh keutamaan, dimulai dengan keutamaan sabar.&lt;br /&gt;3. at-Tausyih: ulasan atas Fath al-Qarib al-Mujib al-Musamma bi at-Taqrib-nya Ibn Qasim al-Ghazi. Kitab ini membahas masalah fikih.&lt;br /&gt;4. Nur azh-Zhulam: ulasan atas al-Manzumah bi Aqidat al-Awwam-nya Syaikh Sayyid Ahmad Marzuki al-Maliki. Kitab ini membahas masalah tauhid.&lt;br /&gt;5. At-Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil: kitab ini membahas masalah tafsir Alqur’an.&lt;br /&gt;6. Madarij ash-Shu’ud: ulasan atas Maulid an-Nabawi asy-Syahir bi al-Barzanji-nya Imam Sayyid Ja’far. Kitab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw.&lt;br /&gt;7. Fath al-Mujid: ulasan atas ad-Darr al-Farid fi at-Tauhid-nya Imam Ahmad Nawawi. Kitab ini membahas masalah tauhid.&lt;br /&gt;8. Fath as-Shamad: ulasan atas Maulid an-Nabawi asy-Syahir bi al-Barjanzi-nya Ahmad Qasim al-Maliki. Kitab ini membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kelahiran Nabi.&lt;br /&gt;9. Nihayat az-Zain: ulasan atas Qurrat al-‘Ain bi Muhimmat ad-Din-nya Syaikh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari. Kitab ini membahas masalah fikih.&lt;br /&gt;10. Sulam al-Fudhala: ulasan atas Manzumat al-Azkiya-nya Syaikh Imam Fadhil Zainuddin. Kitab ini membahas masalah akhlak dan tasawuf.&lt;br /&gt;11. Muraqi al-‘Ubudiyah: ulasan atas Matn Bidayat al-Hidayat-nya Hujjat al-Islam Abi Hamid al-Ghazali. Kitab ini membahas masalah akhlak dan tasawuf.&lt;br /&gt;12. Nashaih al-‘Ibad: ulasan atas al-Munbihat ‘ala al-Isti’dad li yaum al-Ma’ad-nya Syaikh Syihabudin Ahmad bin Ahmad al-Asqalani. Kitab ini merupakan nasihat kepada manusia tentang persiapan menghadapi Hari Akhir.&lt;br /&gt;13. Sulam al-Munajat: ulasan atas Safinat ash-Shalat-nya Sayyid Abdullah bin Umar al-Hadhrami. Kitab ini membahas masalah fikih.&lt;br /&gt;14. Al-‘Aqdhu ats-Tsamin: ulasan atas Manzumat as-Sittin Mas-alatan al-Musamma bi al-Fath al-Mubin-nya Syaikh Musthafa bin Utsman al-jawi al-Qaruti. Kitab ini membahas enam puluh masalah yang berkaitan dengan tauhid dan fikih.&lt;br /&gt;15. Bahjat al-Wasa’il: ulasan atas ar-Risalah al-Jami’ah bain Ushul ad-Din wa al-Fiqh wa Tashawuf-nya syaikh Ahmad bin Zaini al-habsyi. Kitab ini membahas masalah tauhid, fikih dan tasawuf.&lt;br /&gt;16. Targhib al-Musytaqin: ulasan atas Manzumat as-Sayyid al-Barjanzi Zain al-Abidin fi Maulid-nya Sayyid al-Awwalin. Kitab ini membahas masalah kelahiran Nabi Muhammad Saw.&lt;br /&gt;17. Tijan ad-Darari: ulasan atas al-‘Alim al-Allamah Syaikh Ibrahim al-Bajuri fi at-Tauhid. Kitab ini membahas masalah tauhid.&lt;br /&gt;18. Fath al-Mujib: ulasan ringkas atas Khatib asy-Syarbani fi ‘Ilmi al-Manasik. Kitab ini membahas masalah haji.&lt;br /&gt;19. Mirqat Shu’ud at-Tashdiq: ulasan atas Sullam at-Taufiq-nya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alwi. Kitab ini membahas masalah tauhid, fikih dan akhlak.&lt;br /&gt;20. Kasyifat asy-Syaja: ulasan atas Safinat an-Naja-nya Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami. Kitab ini membahas masalah tauhid dan akhlak.&lt;br /&gt;21. Qami’ at-Thugyan: ulasan atas Manzumat Syu’b al-Iman-nya Imam Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad asy-Syafi’i al-Kausyani al-Malibari. Kitab ini membahas masalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah iman.&lt;br /&gt;22. Al-Futuhat al-Madaniyah: ulasan atas Syu’b al-Imaniyah.&lt;br /&gt;23. Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq az-Zaujain: membahas hak dan kewajiban suami isteri.&lt;br /&gt;24. Fath Ghafir al-Khattiyah: ulasan atas Nuzhum al-Jurumiyah al-Musamma bi al-Kaukab al-Jaliyah-nya Imam Abdus Salam bin Mujahid an-Nabrawi. Kitab ini membahas masalah ilmu nahwu (tata bahasa).&lt;br /&gt;25. Qathr al-Ghaits: ulasan atas Masa’il Abi Laits-nya Imam Abi Laitsi dan Mufassir bin Muhammad bin al-Hanafi.&lt;br /&gt;26. Al-Fushush al-Yaquthiyah ‘ala Rawdhat al-Mahiyah fi al-Abwab at-Tashrifiyah. Kitab ini membahas ilmu sharaf (morfologi). Juga membahas tentang tawasul dengan mempergunakan Asma al-Husna (nama-nama Allah yang Agung), dengan Nabi Saw serta ulama-ulama pilihan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari karya-karya tulis Imam Nawawi di atas, dapat diketahui bahwa cakupan disiplin ilmunya sangat beragam dan luas sekali, mulai dari ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu akhlak, ilmu tasawuf dan ilmu bahasa. Hampir seluruh kitab tersebut kini dipelajari di pondok-pondok pesantren salafi maupun majelis-majelis taklim, bahkan sering dijadikan sebagai kitab pegangan utama, misalnya kitab-kitab fikh dan akhlak. Beberapa keistimewaan dari karya-karya beliau telah ditemukan oleh para peneliti, diantaranya kemampuan menghidupkan isi karangan sehingga dapat dijiwai oleh pembacanya, pemakaian bahasa yang mudah dipahami sehingga mampu menjelaskan istilah-istilah yang sulit dan keluasan isi karangannya. Buku-buku karangannya juga banyak digunakan di Timur Tengah.&lt;br /&gt;Semua kitab fikih karya Imam Nawawi merujuk kepada mazdhab fikih Syafi’I, karena memang beliau bermadzhab Syafi’i. Inilah barangkali salah satu faktor kuatnya madzhab Syafi’i di kalangan umat Islam Indonesia. Tepat apa yang dikatakan oleh Muhammad Khudari Beiq bahwa salah satu faktor kuatnya pengaruh madzhab fikih yang empat (madzahib al-arba’ah) adalah ulama-ulama yang dalam dan luas ilmunya menjadi murid imam madzhab (talamidz an-nujaba) yang kemudian menyebarluaskan pendapat-pendapat imam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Arabia an-Nawawi.&lt;br /&gt;Meskipun penulis tidak banyak mendapatkan informasi yang cukup lengkap tentang awal perjalanan an-Nawawi ke Arabia, tetapi dari data yang ada kita beruntung bahwa dia meninggalkan catatan biografi mengenai studinya di Arabia. Diperkirakan, an-Nawawi berlayar menuju Arabia yang awalnya dia  niatkan untuk menunaikan ibadah haji, tetapi selanjutnya dia putar haluan untuk tidak langsung kembali ke tanah air setelah selesai melaksanakan rukun Islam yang ke lima tersebut. Dari data yang ada, selama 3 tahun beliau menghabiskan waktunya untuk berguru dan menimba ilmu dengan para ulama besar ketika itu. Tercatat, diantara ulama yang pernah ditimba ilmunya antara lain Sayyid Ahmad Nakhrawi, Syaikh Ahmad Dimyati dan Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Semua yang disebutkan bermukim di Makkah al-Mukarramah. Selain itu juga beliau tidak hanya mencukupkan diri dengan ulama yang ada di Makkah saja, tetapi beliau pergi berkelana ke kota Hijrah Rasul, Madinah al-Munawarah. Di sana beliau banyak belajar disiplin ilmu keislaman kepada Syaikh Muhammad Khatib al-Hanbali.&lt;br /&gt;Pada tahun 1831 M an-Nawawi kembali ke tanah air. Tetapi tidak lama kemudian, diperkirakan selama 3 tahun, beliau kembali lagi ke Arabia, tepatnya Makkah. Hal itu dilandasi karena kondisi politik tidak memungkinkan bagi an-Nawawi secara leluasa bergerak bebas dalam tablighnya kepada umat. Masa yang singkat itu beliau pergunakan untuk terus mengisi waktunya dalam memperdalam ilmu agama, diantaranya beliau kembali berguru dengan ulama-ulama tanah air.&lt;br /&gt;Sekembalinya an-Nawawi ke Arabia yang kedua kalinya dan menurut catatan sejarah bahwa selanjutnya beliau tidak pernah kembali lagi ke tanah air dan terus menetap di Makkah sampai akhir hayatnya. Periode kedua dari studinya di Arabia menunjukkan akan minatnya yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan khususnya yang berhubungan masalah-masalah keislaman. Pada periode ini, kembali an-Nawawi melanjutkan pengembaraannya dan tercatat bahwa Syaikh Muhammad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Gani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni dan Syaikh Abdul Hamid Dagastani adalah guru-guru an-Nawawi periode kedua studinya di Arabia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaruh intelektual terhadap lingkungan sosio keagamaan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt; Kedudukan penting an-Nawawi bagi perkembangan Islam di Nusantara tak terbantahkan. Hal ini dapat dilihat dari karya-karya yang beliau hasilkan yang nota bene banyak dirujuk oleh umat Islam Indonesia dalam pengamalan keislaman sehari-hari. Salah satu diantara sekian banyak karya yang berpengaruh terhadap umat Islam Indonesia adalah Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil, sebuah karya dibidang tafsir alqur’an. Karya an-Nawawi ini yang menyebabkan beliau mendapatkan penghargaan dari para ulama Makkah dan Mesir. Ketika selesai menulis karyanya tersebut, yaitu pada hari Selasa malam Rabu, 5 Rabi’ul Akhir 1305 H, ia sodorkan terlebih dahulu kepada ulama-ulama Makkah untuk diteliti, kemudian setelah itu diteliti pula oleh ulama-ulama Mesir, untuk kemudian dicetak di Negara tersebut. Di Mesir para ulama memberikan gelar kepadanya “Sayyid ‘Ulama al-Hijaz” (pemimpin ulama Hijaz). Kemasyhuran karya tafsir an-Nawawi yang banyak digunakan di pondok-pondok pesantren di Nusantara satu tingkat di bawah tafsir Jalalain. Karya-karya an-Nawawi di bidang tasawuf juga banyak mewarnai khazanah intelektual kaum agama di Nusantara. Tasawuf yang dipraktekkan an-Nawawi sendiri adalah tasawuf yang agak moderat, tasawuf al-Ghazali, yang menitik beratkan segi etis di dalam bentuk yang sederhana. Pada tahun 1881 M dia menerbitkan sebuah syarh terhadap karya al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, dan juga di tahun 1884 sebuah syarh terhadap syair tasawuf, karya Zainuddin al-Malabari.&lt;br /&gt; Kemudian bukti lain akan pengaruh an-Nawawi terhadap sosio keagamaan masyarakat Nusantara adalah kedudukan serta peran murid-muridnya yang banyak menimba ilmu sewaktu mereka melakukan studi ke Makkah. Pengaruh para murid-muridnya tersebut yang secara tidak langsung membawa paham dari gurunya tersebut tentu tidak perlu diragukan lagi. Diantara para murid beliau adalah K.H. Hasyim Asy’ari, seorang pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlotul Ulama (NU). Sehingga tidak mengherankan jika Ormas ini menisbatkan madzhabnya pada Imam Syafi’i sebagaimana Guru Besar mereka, an-Nawawi yang memang menganut madzhab Syafi’i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup.&lt;br /&gt; An-Nawawi, seorang ulama besar dari Banten yang mempunyai pengaruh besar dalam mengembangkan khazanah keilmuan dan pemahaman masyarakat Nusantara akan hakikat ajaran Islam. Sekalipun tidak lama menetap di Indonesia dan waktunya banyak dihabiskan di Makkah hingga akhir hayatnya, tetapi sumbangsihnya terhadap masyarakat Indonesia tidak sedikit. Karya-karya dalam bentuk tulisan serta kader-kader yang beliau hasilkan yang banyak mewarnai pemikiran keagamaan masyarakat Indonesia merupakan bukti konkrit yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat Indonesia banyak berhutang budi kepada ulama yang sangat tawadlu ini. Tulisan yang sangat sederhana ini tentunya tidak mumpuni untuk mewakili gambaran yang sebenarnya dari ulama abad ke-19 ini. Masih harus diperdalam lagi studi tentang tokoh kita ini. Wallahu A’lam bishshawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2488021308209876597-8977208190356213036?l=thstaipi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thstaipi.blogspot.com/feeds/8977208190356213036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/imam-muhammad-nawawi-al-bantani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8977208190356213036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2488021308209876597/posts/default/8977208190356213036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thstaipi.blogspot.com/2008/10/imam-muhammad-nawawi-al-bantani.html' title='Imam Muhammad Nawawi al-Bantani'/><author><name>HMJ TAFSIR HADITS STAIPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10472059923588584575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2488021308209876597.post-5163353084929368745</id><published>2008-10-06T20:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T20:56:20.450-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA ILMU HADITS'/><title type='text'>Zuhud, Pola hidup seorang Mukmin.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zuhud, Pola hidup seorang Mukmin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Zulkarnain al-Maidaniy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Swt,&lt;br /&gt;لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما أتاكم والله لا يحب كل مختال فخور&lt;br /&gt;“ (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlau gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Al-Hadid (57): 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حدثنا سلي
